Posts

Merekam Cermin

Image
Kita bercermin, memastikan tatanan rambut pada tempatnya. Jemari bergerak pelan, merapikan yang terasa kurang, lalu turun sedikit ke wajah, memastikan kumis atau janggut tidak tumbuh terlalu lebat. Kita mungkin menepuk ringan pipi sendiri atau sekadar menatap sejenak, seolah ingin memastikan bahwa ekspresi yang kita bahwa hari itu cukup bisa diterima. Pandangan kemudian turun ke pakaian. Kita menarik kerah, meluruskan lipatan yang tidak rata, merapikan ujung lengan yang sedikit berantakan. Ada usaha kecil untuk membuat semuanya tampak selaras, tidak mencolok, tetapi juga tidak terlalu biasa. Kita ingin terlihat sebagaimana mestinya, atau setidaknya, sebagaimana yang kita bayangkan. Kadang kita mundur satu langkah, melihat keseluruhan. Dari kepala hingga kaki, memastikan bahwa tidak ada yang terasa janggal. Sepatu dicek sekilas, posisi berdiri diperbaiki sedikit, lalu kita mengangguk kecil pada diri sendiri, seolah memberi tanda bahwa semuanya sudah cukup. Dan memang, dalam banyak...

Harapan Mengudara; Seperti Kembang Api yang Terlihat dari Atap Rumah

Image
  Foto: Leo Okuyama (unsplash.com)  Kalo kita bersepakat dengan kalender masehi, maka sudah terhitung, nyaris 9 kali hubungan kita berganti tahun, dan setiap pergantian tahun hanya merupakan satu tanggal diantara tanggal-tanggal lain yang berbaris rapi di kalender, seperti tembok-tembok di setiap rumah yang memisahkan satu rumah dengan rumah berikutnya. Tetapi, bagi saya, hari ini -atau saya sebut tepatnya tahun ini- menyimpan makna tambahan sejak saya mengenalmu, yaitu perasaan yang menetap disaat tanggalan berganti. Saya sering berfikir bahwa pernikahan tidak pernah benar-benar dimulai di hari akad, melainkan di hari-hari sesudahnya; ketika kita belajar memahami lelah masing-masing, ketika suara langkah di dalam rumah menjadi penanda bahwa saya tidak sendirian. Kamu hadir bukan sebagai jawaban tunggal atas semua kekurangan saya, melainkan sebagai seseorang yang bersedia tinggal dan bertumbuh bersama, meski tahu tanah tempat kita berpijak dan berjalan melewati batuan keriki...

Jalan Berliku Di Bawah Langit Yang Biru

Image
Bang Leon memanggil saya dari pintu kedatangan di Bandara Komodo, "Pak Andi, tunggu sini saja ya, biar tas nya saya bawa sudah". Saya pun memberi isyarat untuk menolak tasnya dibawakan, pertama, saya tidak membawa barang banyak, dan ranselnya masih bisa saya gendong, kedua, nampak terasa canggung saja, kalo barang personal yang masih bisa kita bawa, turut dibawakan orang lain, kecuali memang saat itu saya sedang memanggul karung beras oplosan, atau koper berisi berlian, dan butuh pengamanan sendiri, tentu saya tidak menolak.  Dari perlakuan tersebut, saya jadi berfikir dan senyum-senyum sendiri, apa sekarang saya terlihat seperti seorang profesional, yang datang ke Labuan Bajo bukan untuk berlibur, tapi untuk bekerja, tidak, bukan bekerja, agar lebih fancy, mungkin saya sebut Business Trip, meskipun tiket Garuda saya bukan kelas bisnis, tapi tidak apa-apa. Hanya bisa-bisa celaka sudah, baru minta dibawakan tas deuter bekas murah saja, ekspektasi saya sudah sejauh itu, apalagi...

Di Antara Hal-Hal yang Terus Berubah

Image
Lumrah nampaknya bagi sebagian orang -mungkin kebanyakan orang- ketika menyebutkan ulang tahun merupakan pemaknaan atas hari lahir. Tetapi, hari lahir hanya terjadi sekali. Setelahnya, adalah berbagai upaya untuk mengingat berbagai perubahan yang terjadi. Namun, saya merasa, bahwa cara pandang terhadap hal yang berubah setiap waktu, menjebak kita pada kondisi yang paradoks; Kita merasa tidak ada yang berubah, padahal dalam waktu yang sangat singkat, terjadi pertukaran oksigen, jantung yang terus memompa, sel yang terus bertumbuh, kuku yang sedikit demi sedikit memanjang, dan hal lain yang saya pelajari dalam mata pelajaran biologi -yang kebanyakan lupa nya-, lagipula itu baru urusan fisik, bagaimana dengan sisi psikologis? Bagaimana cara kita menandai perubahan tersebut? Apakah dari keahlian kita merawat luka dan trauma? Atau juga menanggapi ketidakpastian kehidupan? Namun rasanya, kurang tepat juga memisahkan urusan fisik dan psikologis sebagai sebuah hal yang dikotomis, nyatanya untu...

Menyimak Perempuan yang Selamat Dari Dalam Rumah

Image
Kalau diingat-ingat, ada hari-hari dimana ujung jempol kita terjepit pintu, jari telunjuk teriris pisau, lutut menyentuh kerikil, tumbuh bisul, jerawat di wajah, jatuh, atau hal-hal yang berkaitan dengan “kontak” antara benda dan tubuh, yang berakibat pada kondisi rusaknya jaringan, atau bahkan kehilangan nyawa, yang singkatnya diketahui sebagai kondisi yang selamat, atau tidak selamat. Urusan selamat nampaknya bukan perkara sederhana, maknanya melekat (atau sengaja dilekatkan) dengan kondisi hidup, atau sudah mati. Meskipun, sekali lagi tidak sesederhana itu, makna keselamatan juga ada pada kesadaran dalam menjalankan fungsi organ-organ dalam tubuh, sehingga, kalau kesadaran tersebut sudah tidak ada lagi, maka ia disebut telah mati, belum tentu juga tidak selamat, untuk kondisi ini, keselamatan juga berhubungan dengan keterhubungan tubuh dengan ancaman-ancaman yang ia hadapi. Ihwal memaknai selamat pun mengalami ketidakpastiannya sendiri.  Tetapi, kita mungkin bisa sepakat (atau t...

Yang Tersisa dari Remah-Remah Wafer Coklat

Terdengar bunyi kemasan plastik yang berasal dari kursi paling belakang, setelah saya tengok, ternyata kemasan wafer coklat yang sedang dibuka. Wafer coklat itu ikut sibuk, bergeser dari setiap kursi. Terlihat beberapa orang ada yang mengambil, satu, dua, ada juga yang tak tahu diri mengambil sisa isi dan bungkusannya, hingga temannya yang di barisan depan tidak kebagian. Bungkusan wafer coklat itu pun berhenti di bagian tengah deretan kursi. Hanya sisa sampah plastik, dan remahan-remahan yang tersebar di meja-meja.   Sore itu memang terasa lapar; perpaduan AC 18 derajat, kopi hitam diskon member10% yang dibawa kedalam kelas, perut yang absen diisi nasi padang Pak Datuak, ditambah kunyahan bunyi wafer dari kursi belakang bersahutan dengan salah satu dosen yang menjelaskan kemiskinan, membuat urusan pembagian wafer, menjadi urusan yang serius. Urusan yang menyerupai tidak meratanya pembagian Bantuan Pangan Non Tunai (BPNT), dan pekerjaan rumah Sistem Jaringan Sosial yang tak pe...

Doraemon serta Realitas Determinisme Teknologi dan Sosial

Image
  Pagi itu saya bangun terlambat, lalu berdampak terhadap berantakannya rutinitas pekerjaan domestik yang dilakukan pagi hari, khususnya menyapu lantai. Sebetulnya tidak hanya menyapu lantai, masih banyak pekerjaan domestik lain, namun karena lantai di rumah kami cukup sering berdebu, ditambah aktifitas kucing yang berlari kesana kemari meninggalkan bulu-bulu yang menempel di lantai, menyapu lantai pada pagi hari menjadi cukup krusial bagi kami di rumah. Tentu itu menjadi masalah, karena kebersihan lingkungan di dalam rumah menentukan kenyamanan bagi kami. Karena kami tidak bersedia menyediakan Asisten Rumah Tangga -Lagipula siapa kami sehingga harus disediakan asisten rumah tangga hehehe- yang kami pikirkan adalah, sebuah teknologi yang dapat membantu kami untuk menyapu lantai, pastinya ia harus bergerak mengitari ruangan, menyapu seluruh permukaan lantai. Waktu menyapu yang bisa diatur semaunya, sehingga setiap pagi ada satu agenda yang bisa berkurang, yaitu menyapu lantai. K...