Merekam Cermin
Kita bercermin, memastikan
tatanan rambut pada tempatnya. Jemari bergerak pelan, merapikan yang terasa
kurang, lalu turun sedikit ke wajah, memastikan kumis atau janggut tidak tumbuh
terlalu lebat. Kita mungkin menepuk ringan pipi sendiri atau sekadar menatap
sejenak, seolah ingin memastikan bahwa ekspresi yang kita bahwa hari itu cukup
bisa diterima.
Pandangan kemudian turun ke
pakaian. Kita menarik kerah, meluruskan lipatan yang tidak rata, merapikan
ujung lengan yang sedikit berantakan. Ada usaha kecil untuk membuat semuanya
tampak selaras, tidak mencolok, tetapi juga tidak terlalu biasa. Kita ingin
terlihat sebagaimana mestinya, atau setidaknya, sebagaimana yang kita
bayangkan.
Kadang kita mundur satu langkah,
melihat keseluruhan. Dari kepala hingga kaki, memastikan bahwa tidak ada yang
terasa janggal. Sepatu dicek sekilas, posisi berdiri diperbaiki sedikit, lalu
kita mengangguk kecil pada diri sendiri, seolah memberi tanda bahwa semuanya
sudah cukup.
Dan memang, dalam banyak hal, itu
sudah cukup.
Namun, cermin hanya bekerja
sejauh itu.
Ia membantu kita memastikan apa
yang tampak, tetapi tidak pernah benar-benar menyentuh apa yang kita rasakan. Ia
jarang sekali menjawab pertanyaan lebih dalam tentang siapa yang sedang kita
lihat. Kita mungkin mengenali bentuk wajah, garis mata, ekspresi yang muncul,
tetapi itu tidak selalu berarti kita memahami diri yang sedang menjalani hidup
di baliknya.
Dalam banyak kesempatan, kita
tidak benar-benar bercermin untuk mengenal diri. Kita bercermin untuk
memastikan bahwa kita masih sesuai dengan apa yang kita anggap seharusnya. Kita
merapikan, menyesuaikan, dan dalam beberapa hal, menyamakan diri dengan
bayangan yang kita harapkan.
Barangkali itu sebabnya, ada
momen ketika kita merasa sudah melihat diri sendiri, tetapi tidak sepenuhnya
merasa mengenal. Seolah ada jarak yang tipis antara yang tampak dan tidak
tampak dari cermin tersebut. Ada bagian diri yang tidak ikut terpantul.
***
Usianya 37 tahun, dan 9 tahun
kebelakang -hingga mungkin tahun-tahun kedepan- saya membersamainya. Saat itu
pula, saya menemukan cermin sebagai medium lain untuk memantulkan apa yang ada
dalam diri kita, mediumnya tidak selalu cermin seperti pada umumnya, mungkin
bisa kita sebut juga “cermin”, namun “cermin” ini dalam bentuk pasangan.
“cermin” itu menyadarkan saya
tentang berbagai hal. Dalam percakapan yang panjang maupun singkat, dalam
kebiasaan kecil yang berulang, atau dalam merespon berbagai hal yang tidak
pernah benar-benar direncanakan. Di situ, “cermin” tidak lagi tertempel pada
dinding, ia hadir dalam relasi, dalam interaksi, dalam kehadirannya, yang tanpa
disadari memantulkan sisi-sisi diri yang tidak selalu kita lihat sendiri.
Bersamanya, saya mulai melihat
bentuk lain dari “cermin”. Bukan sekadar memastikan lagi apa yang tampak,
tetapi memahami apa yang bergerak. Ada hal-hal yang sebelumnya terasa biasa
saja, menjadi lebih jelas ketika dilihat dari jarak yang berbeda. Ada bagian
dari diri yang mungkin tidak pernah saya pertanyakan, sampai akhirnya ia muncul
dalam percakapan yang tidak disengaja.
Dalam proses itu, saya menyadari
bahwa mengenal diri bukanlah sesuatu yang selesai dalam satu kali lihat. Ia
lebih menyerupai rekaman. Bukan satu gambar yang utuh, tetapi kumpulan potongan
yang terus bertambah. Ada bagian yang terang, ada yang kabur, ada yang baru
terlihat setelah kita menjalaninya cukup lama. Dan tidak semuanya harus
langsung dipahami.
Merekam “cermin” berarti menerima
bahwa apa yang kita lihat hari ini bisa berbeda dengan apa yang kita lihat
nanti. Bahwa refleksi tidak selalu konsisten, dan itu tidak selalu menjadi
masalah. Barangkali, di situlah letak pentingnya kehadiran orang lain. Bukan
untuk memperbaiki bayangan yang kita lihat, tetapi untuk membantu kita
menyadari bahwa cermin tidak selalu harus datar. Ia bisa bergerak, bisa berubah
sudut, dan dalam perubahan itu, kita menemukan hal-hal yang sebelumnya tidak
terlihat.
Untuk itulah, saya merasa proses
perekaman terhadap “cermin” menjadi patut untuk dilakukan, hingga saya mencoba
menuliskannya menjadi sebuah buku, sebagai upaya perekaman proses bercermin
yang singkatnya kita sebut sebagai proses refleksi.
Buku “Mengikuti Deburan Ombak
Dalam Diri: Kumpulan Catatan Refleksi tentang Transisi Diri” hadir, sebagai
sebuah hadiah baginya, sekaligus ucapan terima kasih, karena telah berkenan menjadi
penanda dari perjalanan yang terus berjalan itu, mungkin yang ingin saya
katakan bukan tentang apa yang sudah kita pahami, tetapi tentang bagaimana kita
memilih untuk tetap melihat, meskipun tidak semua hal langsung terlihat jelas.
Karena pada akhirnya, yang kita
lakukan bukan sekadar bercermin.
Kita sedang merekam.
Comments
Post a Comment