Di Antara Hal-Hal yang Terus Berubah
Lumrah nampaknya bagi sebagian
orang -mungkin kebanyakan orang- ketika menyebutkan ulang tahun merupakan pemaknaan
atas hari lahir. Tetapi, hari lahir hanya terjadi sekali. Setelahnya, adalah
berbagai upaya untuk mengingat berbagai perubahan yang terjadi. Namun, saya
merasa, bahwa cara pandang terhadap hal yang berubah setiap waktu, menjebak
kita pada kondisi yang paradoks; Kita merasa tidak ada yang berubah, padahal
dalam waktu yang sangat singkat, terjadi pertukaran oksigen, jantung yang terus
memompa, sel yang terus bertumbuh, kuku yang sedikit demi sedikit memanjang,
dan hal lain yang saya pelajari dalam mata pelajaran biologi -yang kebanyakan lupa
nya-, lagipula itu baru urusan fisik, bagaimana dengan sisi psikologis?
Bagaimana cara kita menandai perubahan tersebut? Apakah dari keahlian kita
merawat luka dan trauma? Atau juga menanggapi ketidakpastian kehidupan? Namun
rasanya, kurang tepat juga memisahkan urusan fisik dan psikologis sebagai
sebuah hal yang dikotomis, nyatanya untuk sisi psikologis, kita pun butuh organ-organ
fisik yang saling mendukung fungsi.
Kembali pada bagian awal, ulang
tahun bisa saja bukan sebagai sebuah perayaan -meskipun terkadang perlu juga
dirayakan sebagai penanda selamat- namun, ulang tahun bisa berupa peringatan;
Bahwa waktu memiliki kuasa untuk memahat bahkan hal yang paling lembut dari
diri kita seperti rasa takut, harapan dan keberanian. Tahun demi tahun seperti
pertemuan tak sengaja dengan bagian diri yang baru saja datang. Seperti tahun-tahun
sebelumnya ketika kita takut dan ingin menangis saat mengingat berbagai hal
yang menyakitkan kala itu, namun saat ini, hal-hal tersebut hanya diingat
sebagai sebuah cerita yang tak lagi menimbulkan rasa sakit, seolah hari-hari
menjadi lebih utuh tanpa rasa khawatir. Mungkin seperti Annica. Bahkan hari-hari buruk yang kita sangka tak akan pernah
reda pun, pada akhinya larut juga. Tidak ada yang kekal.
Mendokumentasikan perubahan yang
terjadi, terlebih pada seseorang. Terlebih lagi pada pasangan, khususnya pada
momen-momen hari lahir, adalah upaya menyimak secara seksama dan khidmat, serta
menyadari secara utuh, bagaimana ia terus bertumbuh, beradaptasi dan berperan
dalam kehidupan yang tidak kekal ini.
Dalam ulang tahunnya, saya mendapatkan
berbagai pelajaran berkaitan dengan perubahan, bukan perubahan terhadap kecamuknya
kondisi negara, tetapi perubahan yang sunyi -yang perlahan masuk meresap pada
diri kita, seperti cara daun menguning menjelang gugur, atau cara seseorang yang
tak lagi menanggapi dunia dengan kemarahan yang sama seperti dulu. Seperti
hari-hari yang kita habiskan di atas lantai rumah, sambil duduk berseberangan,
saling menyimak cerita, atau sama-sama terdiam.
Catatan Kecil:
“Tak ada yang benar-benar bisa kita
ukur dari perubahan dalam diri, kecuali betapa kita masih bisa merasa”

Comments
Post a Comment