Jalan Berliku Di Bawah Langit Yang Biru
Bang Leon memanggil saya dari pintu kedatangan di Bandara Komodo, "Pak Andi, tunggu sini saja ya, biar tas nya saya bawa sudah". Saya pun memberi isyarat untuk menolak tasnya dibawakan, pertama, saya tidak membawa barang banyak, dan ranselnya masih bisa saya gendong, kedua, nampak terasa canggung saja, kalo barang personal yang masih bisa kita bawa, turut dibawakan orang lain, kecuali memang saat itu saya sedang memanggul karung beras oplosan, atau koper berisi berlian, dan butuh pengamanan sendiri, tentu saya tidak menolak.
Dari perlakuan tersebut, saya jadi berfikir dan senyum-senyum sendiri, apa sekarang saya terlihat seperti seorang profesional, yang datang ke Labuan Bajo bukan untuk berlibur, tapi untuk bekerja, tidak, bukan bekerja, agar lebih fancy, mungkin saya sebut Business Trip, meskipun tiket Garuda saya bukan kelas bisnis, tapi tidak apa-apa. Hanya bisa-bisa celaka sudah, baru minta dibawakan tas deuter bekas murah saja, ekspektasi saya sudah sejauh itu, apalagi kalo sampai dipanggul. Rasa-rasanya berbahaya juga kalo betul-betul merasa seperti itu, untungnya karena saya sudah mengunyah banyak buku self improvement dan petuah-petuah bijak di youtube short, akhirnya pikiran itu cuma keusilan saya sendiri saja.
Ini perjalanan dinas saya yang kesekian kalinya di tahun 2025 ini, beberapa kawan bilang "Gacor", beberapa kawan bilang "Mantap, jalan-jalan terus", beberapa menanyakan tentang project apa, tentu ada pula yang mendoakan.
Bang Leon memanggul tasnya sendiri, sedangkan saya berjalan pelan di belakang, seperti rombongan pejabat tanpa protokoler. Di luar bandara, udara Bajo punya rasa asin tipis yang tidak ditemukan di kota manapun, mungkin ini yang mereka sebut “angin laut”, walaupun saya sendiri tidak yakin apakah benar angin bisa membawa rasa. Atau jangan-jangan itu hanya trik lidah yang sudah terlalu lama hidup di udara knalpot.
Saya mulai membayangkan nanti sore, setelah urusan pekerjaan selesai, saya akan duduk di dermaga, memandangi matahari tenggelam, dan pura-pura jadi bagian dari brosur pariwisata. Tapi pengalaman mengajarkan: ekspektasi seperti itu sering dipatahkan oleh hal-hal kecil, seperti wifi yang hilang sinyalnya, atau tumpukan dokumen laporan yang harus segera dicicil “sekarang juga”. Kalo tidak, terulang lagi kejadian minggu lalu; Akhir pekan saya akan diisi oleh begadang, yang membuat wajah saya menyerupai Mas Thomas Alfa Edi Sound.
Di perjalanan menuju hotel, mobil yang kami tumpangi melaju santai. Jalanan Bajo tidak memaksa kita untuk tergesa-gesa, seolah ingin berkata: kalau kau mau buru-buru, pulang saja ke kota asalmu. Saya menyadari, ini kali pertama saya. Dulu, pada beberapa kesempatan di tempat lain, saya datang sebagai turis yang merasa dunia wajib memberi saya pemandangan indah. Sekarang, saya datang dengan tugas, dan anehnya, pemandangan tidak lagi menuntut untuk dinikmati — dia ada begitu saja, seperti kursi di ruang tunggu yang tetap di sana walau kita tidak duduk.
Kata orang, perjalanan dinas itu setengah kerja setengah liburan. Tapi dalam hati saya ragu. Rasanya perjalanan dinas itu seratus persen kerja, dan sisa nol persennya adalah liburan yang kita bohongi sendiri di Instagram. Bedanya hanya di angle foto: laptop di meja kafe dengan latar laut biru, padahal tumpukan file-nya, tetap sama saja seperti di kantor.
Malam nanti mungkin saya akan mencoba makan ikan bakar, kalau sempat. Atau mungkin hanya pesan melalui grab food, karena badan sudah keburu capek. Begitulah perjalanan: ia sering tak seperti yang kita rencanakan, tapi justru di situlah ia memberi cerita.
Besok pagi, tujuan kami adalah Desa Golo Mori. Sebuah tempat yang di peta terlihat seperti titik kecil, tapi di mata pemerintah dan investor, ia sedang dipoles menjadi etalase baru pariwisata NTT. Saya datang sebagai trainer kelembagaan ekonomi sirkular, terdengar keren sekali kalau ditulis di CV, apalagi kalau diunggah di LinkedIn dengan foto sedang menunjuk layar presentasi. Padahal kalau dibuka isinya, sebagian besar kerjaan adalah memastikan orang-orang di ruangan mau mendengarkan, mengangguk, menempel sticky notes di kertas roti besar, dan mau mencoba menerapkan konsep yang terdengar asing tapi sebenarnya sudah mereka lakukan sejak lama dengan cara mereka sendiri.
Di balai desa, kursi plastik warna biru sudah berjejer. Para peserta datang satu per satu: ibu-ibu yang baru selesai menjemur, bapak-bapak yang tadi pagi masih ke kebun, dan beberapa anak muda yang, menurut saya, punya energi yang jauh lebih banyak daripada semua trainer yang datang dari luar. Saya memulai sesi dengan perkenalan. Mereka tersenyum ramah, tapi saya tahu, di benak mereka mungkin bertanya-tanya: apa urusan orang kota bicara soal “sirkular” di tempat yang sejak dulu sudah mengajarkan bahwa apa yang diambil dari tanah harus kembali ke tanah dalam bentuk yang tidak merusak?
Materi saya tentang pengelolaan sampah organik, bank sampah, dan peluang usaha dari limbah. Saya tunjukkan foto-foto dari kota-kota lain yang sudah menerapkan konsep ini. Mereka memperhatikan, sesekali berbisik satu sama lain, lalu mengangguk. Ada bagian yang membuat saya sedikit malu: saat menjelaskan bahwa sampah organik bisa diolah menjadi kompos, seorang bapak paruh baya mengangkat tangan dan berkata, “Di sini, sisa makanan kami kasih ke ayam. Kulit pisang kami kasih ke kambing. Tidak pernah dibuang.” Saya hanya bisa tersenyum dan berkata, “Berarti bapak-bapak dan ibu-ibu sudah lebih maju dari kota.”
Di luar sesi, saya duduk di pinggir jalan desa, menatap Puncak Mori yang katanya ada gua tempat tinggal Komodo . Dari jauh terlihat Pulau Rinca, samar-samar di balik kabut tipis. Anak-anak berlari-lari di lapangan, memukul bola dengan sandal bekas. Saya mencoba mengabadikan momen itu dengan ponsel, tapi entah kenapa hasilnya tidak pernah sebagus aslinya. Mungkin memang ada hal-hal yang hanya bisa disimpan di kepala, dan tidak layak dijadikan konten.
Malamnya, di penginapan sederhana, saya menyalakan laptop. Tugas administrasi menunggu, laporan harus dikirim. Dari luar jendela, suara ombak masuk pelan. Di momen seperti itu, saya merasa seperti dua orang sekaligus: satu yang terlihat sedang “berkarier” di dunia pembangunan berkelanjutan, dan satu lagi yang hanya manusia biasa yang ingin rebahan lebih lama. Dan entah kenapa, keduanya bisa hidup berdampingan, tanpa perlu saling mengalahkan.
Besok pagi, saya akan kembali ke desa, membawa slide presentasi yang sama, tapi dengan hati yang lebih ringan. Bukan karena pekerjaannya selesai, tapi karena saya sudah ingat lagi: di balik semua istilah keren yang kita pakai, pekerjaan ini sebenarnya hanya tentang berusaha tidak merusak, sambil mencoba membuat hidup sedikit lebih baik. Itu saja.
-Ditulis saat menunggu pesawat untuk kembali Ke Jakarta, menemui semuanya-


Comments
Post a Comment