Menyimak Perempuan yang Selamat Dari Dalam Rumah






Kalau diingat-ingat, ada hari-hari dimana ujung jempol kita terjepit pintu, jari telunjuk teriris pisau, lutut menyentuh kerikil, tumbuh bisul, jerawat di wajah, jatuh, atau hal-hal yang berkaitan dengan “kontak” antara benda dan tubuh, yang berakibat pada kondisi rusaknya jaringan, atau bahkan kehilangan nyawa, yang singkatnya diketahui sebagai kondisi yang selamat, atau tidak selamat.


Urusan selamat nampaknya bukan perkara sederhana, maknanya melekat (atau sengaja dilekatkan) dengan kondisi hidup, atau sudah mati. Meskipun, sekali lagi tidak sesederhana itu, makna keselamatan juga ada pada kesadaran dalam menjalankan fungsi organ-organ dalam tubuh, sehingga, kalau kesadaran tersebut sudah tidak ada lagi, maka ia disebut telah mati, belum tentu juga tidak selamat, untuk kondisi ini, keselamatan juga berhubungan dengan keterhubungan tubuh dengan ancaman-ancaman yang ia hadapi. Ihwal memaknai selamat pun mengalami ketidakpastiannya sendiri. 


Tetapi, kita mungkin bisa sepakat (atau tidak juga) bahwa tubuh itu sendiri tidak bisa direduksi kepada bagian-bagian yang tampak saja, tetapi juga meliputi bagaimana otak dengan bagian-bagian sistem syaraf yang kompleks, hingga sel-sel yang ada dalam tubuh turut berkontribusi membangun pendefinisian terhadap tubuh, kalau coba-coba dikaitkan dengan konsep selamat; ketika sel kanker dalam tubuh kita semakin bertumbuh dan berkembang, kemudian di diagnosis sebagai kanker, maka tinggal menunggu saja, apakah ia selamat dari kanker, atau tidak. Lagi-lagi makna selamat juga disematkan pada kondisi tubuh dan apa yang kemudian dianggap penyakit. 


Keberagaman makna dari selamat, membuat ia menjadi cukup luwes untuk masuk kedalam perbincangan dan ucapan sehari-hari kita, terlepas dari urusan kematian, ucapan selamat juga tersimpan dalam menyambut sebuah penanda kondisi, waktu atau kehadiran, misalnya, selamat datang di kota….., selamat datang di desa….. Selamat jalan, selamat makan, hingga selamat tidur. Selanjutnya ucapan selamat juga turut hadir memaknai kehidupan, misalnya dalam ucapan selamat atas lahirnya….., selamat ulang tahun, selamat menempuh hidup baru, atau mungkin ucapan selamat yang bernuansa politis misalnya selamat atas terpilihnya presiden, selamat atas juara…., disertai foto si pengucap selamat, yang seringkali lebih besar ukurannya dibanding dengan ucapannya itu sendiri, dalam satu banner. 


Urusan dari lubang vagina hingga liang lahat, rasa-rasanya cukup sering ditemani kehadiran kata “selamat”. 


Narasi reflektif sebelumnya, mengantarkan pada upaya memaknai satu ucapan, yaitu “selamat ulang tahun”. Saya mencoba untuk tidak tergesa-gesa dalam menyetujui atau tidak terhadap ucapan tersebut, karena semasa kecil ucapan tersebut bukan hanya ucapan saja, tetapi dilengkapi dengan perayaan, kehadiran badut sulap dan teman-teman, kue black forest, tumpukan kado, dan senyuman dari orang tua. Saat tumbuh remaja, ucapan tersebut selalu saya (atau prasangka lainnya) teman-teman saya juga nantikan, karena nanti ada traktiran makan nasi kuning, atau makanan lainnya. Seiring bertambahnya angka umur, pemaknaan tersebut pun mengalami perubahan, apalagi saat ini, saat saya sudah tinggal dengan perempuan yang kemudian disebut istri, ditambah 8 kucing, pemaknaan terhadap ucapan tersebut pun berubah. 


Kalau dipikir-pikir apa yang berubah? Maka jawaban sederhananya adalah, pelekatan ucapan selamat di atas bukan hanya pada ukuran waktu per tahun, tapi menjadi lebih sensitif terhadap ukuran waktu yang pendek, misalnya harian, dan tidak hanya itu, ucapan selamat tadi tidak hanya melekat pada proses penanda waktu saja, tapi juga pencapaian-pencapaian dalam pemikiran, pengaturan konflik, dan hal-hal prinsipil lain yang terkadang hanya bisa dirasakan oleh kami berdua, meskipun tidak muncul dan diucapkan secara eksplisit.


Tentu perubahan tersebut tidak berasal dari saya, tetapi berasal dari kami yang sama-sama menyimak satu sama lain, terlebih dari saya yang banyak belajar ketika menyimak perempuan tersebut, setidaknya, dalam 7 tahun kami tinggal bersama, dia banyak sekali mengalami berbagai perkembangan, sekaligus jatuh, yang memberikan berbagai pelajaran untuk terus bertumbuh. 


Saya tidak ingin menjabarkan berbagai perkembangan atau tantangan yang ia hadapi dalam tulisan ini, sebab, yang lebih penting adalah, proses-proses tersebut memberikan kami ruang untuk belajar. Khususnya bagi saya yang banyak menyimak ia dari dalam rumah.


Seperti halnya hari ini, kami telah belajar. Rumah seharusnya menjadi tempat untuk saling menyelamatkan, meskipun ada hari-hari kita jatuh, teriris, atau sakit, kita harus berupaya Selamat.


“Saat ini adalah saat ini, Selamat Dhea” 

 








 



Comments

Popular posts from this blog

Jalan Berliku Di Bawah Langit Yang Biru

Di Antara Hal-Hal yang Terus Berubah