Yang Tersisa dari Remah-Remah Wafer Coklat
Terdengar bunyi kemasan plastik yang berasal dari kursi paling belakang, setelah saya tengok, ternyata kemasan wafer coklat yang sedang dibuka. Wafer coklat itu ikut sibuk, bergeser dari setiap kursi. Terlihat beberapa orang ada yang mengambil, satu, dua, ada juga yang tak tahu diri mengambil sisa isi dan bungkusannya, hingga temannya yang di barisan depan tidak kebagian. Bungkusan wafer coklat itu pun berhenti di bagian tengah deretan kursi. Hanya sisa sampah plastik, dan remahan-remahan yang tersebar di meja-meja.
Sore itu memang terasa lapar; perpaduan AC 18 derajat, kopi hitam diskon member10% yang dibawa kedalam kelas, perut yang absen diisi nasi padang Pak Datuak, ditambah kunyahan bunyi wafer dari kursi belakang bersahutan dengan salah satu dosen yang menjelaskan kemiskinan, membuat urusan pembagian wafer, menjadi urusan yang serius. Urusan yang menyerupai tidak meratanya pembagian Bantuan Pangan Non Tunai (BPNT), dan pekerjaan rumah Sistem Jaringan Sosial yang tak pernah usai. Memang betul, urusan perut lapar, malah membuat persoalan semakin pelik. Kali ini Maslow betul.
Sore itu, pukul 17.15 kalo tidak salah ingat, dua dosen yang duduk di depan kelas, mengarahkan kami untuk segera menentukan isu dan tempat kajian. Sementara saya masih berfikir, mau makan apa setelah kelas ini usai. Kelas itu adalah kelas Studio Kebijakan Pembangunan. Tempat saya mendapatkan pelajaran berharga dari beberapa bungkus wafer coklat serta berbagai interaksi yang terjalin di dalam prosesnya.
Jika ditanya siapa -atau apa- yang pernah menempati seluruh deretan kursi dikelas? Maka saya bisa jawab, itu adalah wafer coklat yang diedarkan (itupun kalo tidak keburu habis). Saya membayangkan, bagaimana jadinya kalo saya jadi wafer coklat yang dibeli oleh Bung B? Tentu saya pumya kesempatan untuk lebih banyak mengenali teman-teman saya, dari bagaimana cara mereka mengambil, jari mana yang mereka gunakan untuk mengambil, bagaimana cara mereka mulai mengunyah wafer, apakah dibuka per lapisannya, dimakan satu per satu, atau ditumpuk jadi dua kemudian dikunyah, hingga bagaimana dia memaknai proses pendistribusian wafer tersebut di dalam kelas.
Dari menjadi wafer coklat yang imajiner, nampaknya saya bisa membayangkan cara pandang di setiap bagian kursi yang diduduki oleh teman-teman saya. Nampaknya seru. Dari paling belakang, saya bisa membuka laptop dan meneruskan pekerjaan saya, atau mungkin bermain The Sims, mengerjakan deadline tugas, atau ketiduran. Tapi jangan-jangan, dari paling belakang, saya bisa juga lebih memperhatikan, karena jarak pandang yang luas, dan menjadi lebih awas.
Dari kelaparan yang melanda di sore hari itu, saya berfikir, kenapa tidak menjadi wafer coklat saja ya? Kenapa tidak (!).
Ternyata, setelah saya mendeklarasikan diri kepada diri saya sendiri untuk menjadi wafer coklat - meskipun dengan keterbatasannya- saya bisa lebih mengenal teman-teman saya, dan itu ternyata menyenangkan. Saya tidak pernah memiliki ekspektasi tinggi terhadap hubungan emosional yang muncul setelah saya mencoba mengenal lebih teman-teman saya. Bagaimana tidak, saya bisa menyelami keberagaman teman-teman saya, yang membuat saya menjadi makin belajar.
Inilah daftar nama teman-teman yang sengaja saya ubah dengan sebutan dari saya sendiri ketika menjadi wafer coklat.
- Bapack-bapack yang di-Endorse kapuyuak cloth. Dia hanya mengambil satu, tapi melihat temannya yang bernama Andi belum kebagian karena duduk di depan, akhirnya bapack-bapack tersebut malah menghantarkannya ke tempat duduknya si Andi. Mungkin bapack bapack ini adalah salah satu sahabat yang sangat berarti buat Andi, dengan pembawaan yang tenang, seringkali menemani Andi di saat berbagai kecamuk yang sedang ia hadapi. Seringkali memberi dorongan dan semangat, sistematisnya bapack-bapack tersebut dalam menjalani hidup, rasa sayangnya terhadap keluarga, secara tidak langsung mewarnai pembelajaran hidup Andi. Kecuali jokes recehnya. Karena mungkin sudah banyak di Meme Meme Sosial Media.
- Mas'e, kadang wafer coklatnya diambil satu, kadang tidak. Saya mendapatkan pelajaran, meskipun berbeda angkatan secara administratif, tapi rasanya kami tidak berbeda angkatan, layaknya teman sekelas. Mungkin karena Mas'e sangat friendly, humble, meskipun di satu sisi, tetap tegas terhadap pembagian tugas, ia juga cerdas, dan tajam dalam analisa nya. Terlebih, inisiatifnya sudah mengalir dalam dirinya. Sehingga pekerjaan-pekerjaan pun bisa dicicil dan selesai, meskipun kadang meleyot.
- Uwa. Dia kadang sengaja ngambil empat (atau dua baris wafer dalam bungkusan), awalnya saya pikir itu rakus, tapi ternyata tidak, ia hanya becanda, Uwa ini orang sholeh yang menampakan dirinya sebagai sahabat menyebalkan, padahal tidak. Uwa senang Bercanda. Uwa orang strategis, nan taktis, mampu mengambil keputusan yang cepat, gesturnya selalu tenang, tidak pernah menunjukan suatu keresahan. Saya belajar banyak dari Uwa.
- Mantan Aktivis Buruh. Dia mengambil lebih dari satu, meskipun di dalam tasnya, selalu tersedia bungkusan nasi padang, yang dimakan dalam dua termin. Termin pertama, siang. Termin kedua, sore hari. Tapi darinya saya belajar banyak tentang, bagaimana ia berfikir, dan menganalisis suatu permasalahan dengan tajam, dan perspektif yang luas.
- Seps. Dia mengambil satu, tapi nuduh temannya ngambil empat. Memang parah, tapi ternyata ia becanda, meskipun pembawaannya serius, dan kaku, tapi untuk beberapa temannya, ia sering becanda. Meskipun pembawaannya seringkali nampak seperti ngajak ribut. Tapi darinya saya belajar, cara berfikir sistematis yang runut, tertib, itu berguna sekali untuk beberapa hal.
- Mas-Mas Perubahan Iklim. Suka ngambil wafer, tapi satu atau dua. Di meja nya suka ada Kopi, Japanese Drip, Atau Ice Latte. Kayaknya jarang ada kopi panas di mejanya. Anak muda berbakat, dan calon ahli lingkungan. Saya banyak belajar tentang pemikiran yg kritis terhadap kerangka kerja ilmu lingkungan.
- Mas-Mas Kebencanaan. Diam-diam ngambil satu aja, cukup, ketawa-ketawa seringnya. Dia punya sense lebih terkait kebencanaan, memandang bencana untuk dianalisis jadi kegemarannya, nampaknya begitu. Tapi tentu orang ini cerdas, meskipun suka mengerjakan hal-hal menjelang deadline, tapi itu salah satu indikasi orang cerdas juga. Orang yang friendly dan humble. Meskipun jarang nongkrong, tapi setidaknya rokoknya sama. Gudang Garam Filter.
- Mas-Mas NGO. Sudah pasti ambil wafer, tapi saya banyak belajar, dia punya kemampuan berfikir secara sistem yang mumpuni. Kalo tidak ada dia, mungkin kelas jadi agak sepi, dengan jokesnya, pembawaannya, memberikan warna lain di kelas. Kami sering bertukar cerita di ruang pengap berpintu abu-abu. Disana kami sering merokok bersama. Sambil update Meme-Meme yang 'seliweran' di sosial media.
- Bung B. Disini cerita wafer bermula, karena wafer yang beliau beli, cara pandang ini menjadi muncul. Beliau salah satu motivasi, gambaran masa depan, terkait capaian-capaian yang nantinya perlu saya dapatkan. Tidak jarang, wafer coklat ini, sering dibawa kemana-mana, ke tempat kopi, bahkan hingga perjalanan di Indramayu. Pelajaran sederhana, tapi membekas.
- Babang Vokalis. Dia sering duduk di ujung paling kanan, buka laptop, sambil ngemil wafer. Laki-laki tegas, dengan suara yang bagus. Diam-diam menghanyutkan, tenang tapi pekerjaan selesai. Dia selalu punya waktu video call anaknya, seorang lelaki yang menyayangi keluarga, penolong.
- Iyam. Dia sering ngambil wafer juga, tapi easy going, teman badminton, dan sering bantu mendokumentasikan kegiatan kelas. Saya banyak belajar, bagaimana peran yang sederhana, dapat membantu optimalnya yang dicapai.
- Bimboy. Kadang ambil wafer, seringnya tidak, mungkin karena sama-sama duduknya di depan. Atau karena terlambat dan jarang masuk kelas. Tapi setelah masuk kelas dan berkegiatan di Studio. Perannya termaksimalkan. Berdampak.
- Mas Dar. Ngambil wafer, nampaknya satu saja. Duduk di belakang, dekat jendela. Saya banyak belajar dari dia, dalam menghadapi berbagai sesuatu, dan kemauannya menghadapi sesuatu tersebut. Terakhir dia mengirimkan makanan yang ia masak, sekelas makan bersama, tidak ada wafer hari itu.
- Haji. Kalem, jarang ambil wafer. Sekali bergerak, semua playlist dilibas. Anak muda yang cerdas, sekilas nampak akan cuek, setelah kenal lebih, ternyata friendly, terlebih bagaimana cara dia berfikir tentang suatu isu, dan banyak membantu pada perumusan pengorganisiran dan jadwal lapangan. Saya banyak belajar.
- Kang Yuds. Jarang ambil wafer. Dia pintar dalam nganalisis data, karena pekerjaannya juga mendukung untuk itu. Banyak membantu dalam merumuskan penggunaan aplikasi mWater. Punya kemauan dan inisiatif yang baik.
- Umi. Wafernya jarang diambil, karena dia sendiri sering membawa bekal. Bekalnya kadang dibagikan, ke orang yang dia rasa "lapar". Pengorganisiran, Inisiatifnya, kerjaan teknis, detail persiapan, ia bantu, sangat supportif. Di tengah peran dia sebagai ibu dan istri, dia banyak menyempatkan waktu dan energi untuk bantu mengurusi hal-hal krusial. Saya banyak belajar darinya.
- Perempuan Kretek (Relix). Dia kadang ambil wafer, punya cadangan air minum terbanyak di kelas, ditambah Ice Americano yang sudah tidak icy lagi. Seorang editor, yang bisa dengan cepat membagi pikirannya, antara kuliah dan pekerjaan. Dibantu dua senjata andalan, laptop dan monitor terpisah. Saya banyak belajar, menyimak bagaimana proses tersebut ia lakukan dengan tekun, meskipun sedikit misuh-misuh, Tapi optimal. Perempuan cerdas, yang memberikan banyak pelajaran.
- Cwaangiii. Mengambil wafer, di mejanya selalu tersedia kopi fore, atau kopi kopi "to go". Salah satu dari sekian perempuan cerdas di kelas. Banyak membantu dalam proses analisis di Studio. Pembawaannya menyenangkan, memberikan warna lain di kelas.
- DekNabs. Ngambil wafer, tapi lanjut ngetik lagi notulensi. Salah satu perempuan ter-enjoys, karena "haha-hihi" nya. Hobi motret menggunakan analog, sekaligus calon SJW Lingkungan Pesisir. Pembawaannya seperti punya adik perempuan. Meskipun begitu, saya banyak belajar, bagaimana komunikasi asertif yang dia sampaikan; Tidak usah basa-basi.
- Ito Oki. Ngambil wafer, tapi dia juga suka bawa bekel, di wadah yang bertuliskan Ecentio, kalo tidak salah membaca. Salah satu perempuan berbakat di ranah perencanaan, banyak berkontribusi dalam substansi di studio. Saya banyak belajar darinya, tentang keikutsertaannya dalam pekerjaan-pekerjaan penting di karirnya. Banyak juga memotivasi saya. Saya menunggu fermentasi tape buatannya untuk ikut hadir di kelas, tapi nampaknya akan sulit.
- Jeng Stephany. Jarang ambil wafer, tapi ada kopi di mejanya, perempuan yang juga cerdas, dan kreatif, saya banyak belajar darinya, dalam komunikasi yang asertif. Ia banyak merekam visual, punya sense yang peka terhadap bagaimana dokumentasi digambarkan. Ia juga cukup kritis untuk menanggapi suatu isu.
- Mbak'e. Kalem, jarang ambil wafer, sekali kerja semua beres. Perempuan yang kritis. Saya banyak termotivasi tentang perjalanan pekerjaannya. Saya juga banyak belajar.
- Teh Nabs. Jarang terlihat ambil wafer, ia juga menyerupai fasilitator dalam kelompok. Punya concern yang tinggi terhadap studi perdesaan. Saya banyak belajar juga darinya. Dari proses kelas Studio.
- Mbak Lala. Ambil wafer satu kayaknya. Perempuan kalem, bikin teduh suasana kelas. Tapi juga cerdas, banyak membantu dalam proses koordinasi, sangat supportif. Saya banyak belajar darinya.
- Teh Es. Ambil wafer, perempuan yang punya pemikiran yg kritis juga. Dengan perannya sebagai Ibu, ia bisa membagi dengan cukup baik. Saya banyak belajar darinya.
Comments
Post a Comment