Doraemon serta Realitas Determinisme Teknologi dan Sosial
Pagi itu saya bangun terlambat, lalu berdampak
terhadap berantakannya rutinitas pekerjaan domestik yang dilakukan pagi hari, khususnya
menyapu lantai. Sebetulnya tidak hanya menyapu lantai, masih banyak pekerjaan
domestik lain, namun karena lantai di rumah kami cukup sering berdebu, ditambah
aktifitas kucing yang berlari kesana kemari meninggalkan bulu-bulu yang
menempel di lantai, menyapu lantai pada pagi hari menjadi cukup krusial bagi
kami di rumah. Tentu itu menjadi masalah, karena kebersihan lingkungan di dalam
rumah menentukan kenyamanan bagi kami.
Karena kami tidak bersedia menyediakan Asisten Rumah Tangga -Lagipula siapa kami sehingga harus disediakan asisten rumah tangga hehehe- yang kami pikirkan adalah, sebuah teknologi yang dapat membantu kami untuk menyapu lantai, pastinya ia harus bergerak mengitari ruangan, menyapu seluruh permukaan lantai. Waktu menyapu yang bisa diatur semaunya, sehingga setiap pagi ada satu agenda yang bisa berkurang, yaitu menyapu lantai. Kita tinggal meneruskan rebahan, atau menyeduh kopi dan mengerjakan hal-hal lainnya. Intinya adalah, semua terotomasi.
Ternyata setelah mencari tahu dengan
berselancar di dunia maya, robot penyapu sekaligus penyedot debu sudah berhasil
diciptakan, dapat dibeli, dan mempermudah kita, tentu dengan konsekuensi harga
yang -bagi saya- cukup merogoh kocek. Tetapi, terlepas dari persoalan daya
beli, saya kemudian membayangkan berbagai macam teknologi yang harus ada di
rumah saya, seperti alat penyeduh kopi otomatis dengan kemampuan menyeduh ala
barista, kemudian lampu rumah yang bisa diatur dengan suara, ditambah robot
pemijat yang sudah mengetahui titik-titik accupresure. Meskipun
barangkali teknologi tersebut sudah ada, saya tentu belum bisa mengakses dan
mengadopsi teknologi tersebut.
Teknologi yang Imajiner
Teknologi bagi saya selalu menempatkan dirinya
dalam kerangka futuristik pun canggih. Ia adalah masa depan yang harus dicapai
serta memiliki relasi yang kuat atas indikasi adanya inovasi yang dilakukan
oleh manusia. Munculnya teknologi dikonstruksi oleh perjalanan panjang revolusi
sains yang berdampak terhadap perkembangan ilmu pengetahuan, serta didukung
oleh kedaulatan akal manusia yang terus menerus berfikir untuk menciptakan demi
kemajuan, serta kehendak untuk merasa nyaman. Seperti yang saya coba jelaskan
pada paragraf sebelumnya, pengadopsian teknologi di rumah saya sendiri memiliki
tujuan agar pekerjaan domestik di rumah dapat diwakilkan oleh teknologi,
sehingga saya bisa terbantu dan menjadi nyaman.
Berangkat dari imajinasi akan kenyamanan,
teknologi hadir untuk membantu manusia. Karena hal itu, saya jadi teringat akan
relasi Nobita dan Doraemon dalam berbagai episode nya, bagaimana Nobita menjadi
terbantu atas teknologi canggih yang diciptakan dari masa depan, mulai dari
mesin waktu, dimana ia bersama teman-temannya bisa berkelana pada berbagai
ruang dan waktu. Kemudian baling-baling bambu, yang dapat membawanya terbang
dan -pada beberapa episode- dijadikan alat untuk bepergian. Selain itu, ada
juga mesin yang dapat menggandakan barang, ini digunakan selain oleh Nobita,
juga oleh Doraemon yang seringkali menggandakan makanan kesukaannya; Dorayaki. Berbagai
bentuk teknologi sangat banyak ditampilkan, sejak serial komiknya diciptakan
pada 1 Juni 1969, dengan total 1.345 cerita yang tiap episode nya menampilkan
satu teknologi. Artinya ada seribuan lebih imajinasi akan teknologi yang muncul
dalam cerita Doraemon. Terlepas dari kuantifikasi jenis dan ragam teknologi,
dalam serial tersebut isu utamanya adalah penggambaran Nobita sebagai anak SD
pemalas, yang keranjingan menggunakan teknologi dari Doraemon untuk
menyelesaikan masalahnya, membalas dendam karena rundungan, atau hanya sekedar
pamer kepada teman-temannya. Namun, Doraemon tidak muncul begitu saja, ia hadir
karena dikirim dari masa depan untuk memperbaiki kehidupan Nobita agar ia
menjadi lebih baik.
Dalam Imajinasinya, teknologi barangkali bisa
bermakna ganda. Ia bisa bermakna sebagai suatu hal yang masih dibayangkan dan
belum diciptakan, atau, ia sudah diciptakan, namun masih menjadi imajinasi bagi
individu lainnya, yang disebabkan karena belum bisa diakses dan dimiliki
sebagai barang personal. Pada konteks Doraemon, teknologi didominasi oleh
hal-hal yang belum diciptakan, dianggap mustahil. Namun pada beberapa hal,
teknologi tersebut sudah diciptakan, meskipun dalam bentuk yang lain, misalnya
teknologi untuk terbang, pengganda barang dalam bentuk cetakan tiga dimensi,
atau mesin pendeteksi kebohongan. Mungkin saat Fujiko F. Fujio menyusun cerita
Doraemon, ada teknologi yang masih berada dalam imajinasi, namun seiring waktu,
hal yang tadinya imajiner, menjadi sebuah realitas pada saat ini, atau hal yang
belum tercapai saat ini, bisa jadi menuntun pada penemuan teknologi di masa
depan. Teknologi, dapat menjadi sangat dinamis, dan juga spasial.
Determinisme Teknologi
Penelusuran kebergantungan manusia dengan
teknologi, tentu perlu ditinjau secara historis. Pada masa sebelum terjadinya
revolusi industri, Kerja-kerja khususnya pada ranah agraria serta komoditas
tenun dilakukan menggunakan tenaga manusia dan hewan. Dorongan akumulasi
keuntungan, serta modal, dan narasi produktifitas hingga efisiensi, mendorong
manusia kedalam agenda otomasi melalui penciptaan teknologi untuk memperbesar
skala produksi, meningkatkan produktifitas, efektifitas dan efisiensi. Hasilnya
adalah, revolusi industri pertama, dengan penemuan alat tenun mekanis yang
menggunakan mesin uap pada tahun 1784. Hal
tersebut turut berkontribusi terhadap meningkatnya kehilangan pekerjaan pada
masa itu, meskipun perekonomian meningkat dan penghasilan perkapita negara
menjadi enam kali lipat sehingga memungkinkan untuk mengakumulasikan keuntungan
dalam rangka menciptakan berbagai inovasi.
Revolusi industri fase kedua, ditandai dengan
munculnya listrik pada abad ke-18 dan 20 atas penemuan lampu listrik serta
berdirinya perushaan General Electric yang didirikan oleh Thomas A.
Edison. Penemuan listrik membuat biaya produksi menjadi lebih murah dari
sebelumnya. Selain itu, hal tersebut juga memungkinkan produksi mobil dapat
dilakukan secara massal, karena setiap pekerja dilatih untuk menekuni satu
bagian produksinya saja, dengan bantuan mesin-mesin elektrik yang sudah terpasang
di pabrik. Meskipun apa yang disebut dengan kendaraan, telah ditemukan sejak 1700-an dengan menggunakan mesin uap, namun terus
berkembang hingga 1885, dimana Gottlieb Daimler dan Karl Benz berhasil
menciptakan mobil bermesin pembakaran dalam dan terus berkembang hingga alat
kendaraan yang ditemukan mengubah pola mobilitas manusia . Pola tersebut memungkinkan
manusia mampu menjelajahi daratan, hingga menciptakan tank dan industrialisasi
senjata-senjata yang turut memantik munculnya Perang Dunia I. Meskipun Kolonialisme
telah dilakukan berabad-abad kebelakang, munculnya perkembangan teknologi pada
revolusi industri fase kedua ini, menegaskan berbagai kekuatan dan otoritasnya
untuk saling memerangi satu sama lain.
Selanjutnya, penemuan teknologi tak pernah ada
habisnya, ia berkembang ke berbagai bentuk yang tadinya imajiner, menjadi
sebuah realitas, mengisi berbagai sela kehidupan manusia. Katakanlah pada fase
revolusi industri ketiga, gagasan akan teknologi masuk kedalam era abad
informasi. Pada tahap awal di fase ini, penggunaan teknologi informasi dan komputerisasi
diagendakan untuk membangun otomasi produksi, tentu tujuannya adalah agar jumlah
barang yang diproduksi bisa dipercepat, karena penggunaan teknologi bisa direkayasa
sedemikian rupa, melebihi kemampuan tubuhnya. Selain produksi yang cepat dan
efisien, penyebaran informasi dan komunikasi pun juga turut menjadi cepat.
Penemuan alat komunikasi berupa telepon sejak era Alexander Graham Bell, Meucci,
Reis, Dolbear, Cheever serta Pierce, kemudian didukung oleh penemuan Internet
pada 1969 oleh Kleinrock. Efek penemuan teknologi informasi pada era ini, membentuk
pola komunikasi masyarakat. Dengan meminjam istilah dari Yasraf Amir Piliang,
maka dunia yang dilipat -secara konseptual- pun benar adanya. Terbukanya
koneksi antar ruang dan waktu, membuat hidup kita tak akan kekurangan
informasi, bahkan mungkin kebanjiran informasi. Bahkan memungkinkan kita untuk
menjelajahi realitas virtual pada era setelahnya. Perkembangan teknologi tidak
lagi memproduksi berbagai alat, peningkatan nilai komoditas, atau bahkan komunikasi
serta informasi. Teknologi saat ini dapat menciptakan ruang yang baru. Ruang
yang bersifat artifisial dan maya, telah memindahkan berbagai aktivitas manusia
dalam hal politik, sosial, ekonomi, kultural, spiritual hingga seksual kepada berbagai
bentuk penggantinya yang artifisial. Ruang virtual merupakan ruang imajiner yang
membuka kemungkinan baru bagi setiap orang untuk melakukan hal-hal yang bisa dilakukan
dalam kehidupan sosial sehari-hari dengan cara yang baru, yaitu cara yang
artifisial. Cara artifisial bergantung pada peranan teknologi komputer dan
informasi dalam mendefinisikan realitas barunya, sehingga berbagai kegiatan
yang dilakukan di dalamnya; Bersendagurau, gosip, pertengkaran, protes, kritik,
belajar, bermain, bermesraan, bercinta, menciptakan karya seni, semuanya dapat
dilakukan di ruang virtual.
Kondisi di atas telah membawa saya terhadap
sebuah persoalan fenomenologis dan ontologis, tentang ‘ada’ dan ‘keberadaan’ di
dalamnya. Apakah ‘Ke-ber-ada-an’ ruang virtual tersebut? Apakah ia sama dengan ‘ada’
di dalam kehidupan nyata sehari-hari kita? Apakah ruang virtual merupakan
sebuah dunia kehidupan (lifeworld), seperti dunia kehidupan keseharian (everyday
life)? Bila ia merupakan sebuah dunia, maka ‘dunia kehidupan’ seperti apa
yang ditawarkannya? Keberadaan ruang virtual, membentangkan persoalan mendasar
tentang lifeworld itu sendiri. Tentu, dunia kehidupan adalah dunia yang
kompleks, melibatkan berbagai model kesadaran dan pengalaman empiris. Merujuk
pada Alfred Schutz dan Thomas Luckmann di dalam The Structure of The Life
World, di dalam dunia kehidupan dibedakan antara dunia harian yang melibatkan
kesadaran (consciousness) dan dunia lain yang melibatkan ketidaksadaran (unconsciousness)
seperti mimpi atau bawah sadar (subconsciousness). Bagaimana dengan
ruang virtual? Ruang virtual merupakan dunia yang dimasuki oleh manusia dengan
penuh kesadaran, namun berbeda dengan dunia harian (everyday lifeworld)
yang merupakan dunia yang dibangun berdasarkan ‘kesadaran atas obyek-obyek yang
nyata’. Obyek dalam ruang virtual adalah ‘obyek-obyek tak nyata’, yang
ditangkap pengalaman hanya dalam bentuk halusinasi. Tetapi ruang virtual
bukanlah mimpi, bukan pula ‘yang nyata’ dalam konteks lifeworld, yang
disebabkan ia dibangun oleh ruang-ruang artifisiallitas teknologi. Karena
obyek-obyek dalam ruang virtual, dibentuk oleh satuan-satuan informasi di dalam
sistem pencitraan komputer yang disebut bit (byte). Maka pengalaman ‘hidup’
dalam di dalam ruang virtual sesungguhnya bukan pengalaman fisik (meruang,
mewaktu, mendunia) melainkan pengalaman halusinasi, yang berbeda dengan konteks
halusinasi dalam ‘dunia harian’.
Teknologi dan Perubahan Sosial
Dalam pandangan determinisme teknologi, rangkaian
perekembangan teknologi yang dijelaskan pada berbagai fase di atas tidak hanya
menuntun pada proses peningkatan produktifitas serta efisiensi, atau dampak
terhadap kondisi lingkungan hidup, tetapi juga menuntun pada perubahan pada
manusia, secara individu maupun sosial. Langdon Winner juga mempertanyakan sekaligus
membahas perihal “Apakah Artefak Teknologi itu Politis?” Ternyata cara-cara menciptakan
teknologi pun dibentuk oleh relasi kuasa dan otoritas tertentu, dan teknologi
yang telah diciptakan turut melanggengkan corak ekonomi, politik dan sosial.
Katakanlah, pada fase Revolusi Industri, selain semakin jelasnya kesenjangan
secara pendapatan, teknologi juga berperan untuk menciptakan keterasingan atau
alienasi antara alat produksi dan buruh. Tapi teknologi dalam industri pun
membuat perekonomian semakin maju karena produktifitasnya. Manusia sebagai
pemilik modal kemudian terus mengakumulasikan keuntungannya untuk membentuk
industri lainnya yang sarat akan perkembangan teknologi lanjutan.
Intervensi Gender dalam perkembangan teknologi
pada fase revolusi industri pertama dan kedua pun tidak dapat dihindari. Cowan dalam
Essaynya berjudul “Gender and Technological Change” mengilustrasikan industri
Cigar pada abad ke 19, saat itu produksi Cigar dilakukan secara tersentralistis
di pabrik-pabrik dengan tenaga laki-laki yang rata-rata berasal dari Spanyol,
Kuba dan Jerman memiliki kemampuan tinggi untuk mengemas Cigar. Namun kemudian
ada aksi pemogokan yang dilakukan oleh para pembuat Cigar di New York, dan
sebagai konsekuensinya para pabrik Cigar mengatur imigrasi wanita Bohemian yang
bekerja di perdagangan Cigar di tanah asal mereka. Perempuan-perempuan ini
tidak seterampil laki-laki, namun mereka diberikan alat cetakan sederhana untuk
membentuk Cigar, mereka juga dapat membawa alat tersebut untuk dibawa
kerumahnya masing-masing, sehingga proses mencetak Cigar bisa dilakukan di
rumah. Hal tersebut ternyata berdampak pada efektifitas produksi dan berhasil
menekan biaya gaji pekerja, karena mereka dianggap sebagai manusia yang tidak
memiliki keterampilan seperti laki-laki pencetak Cigar sebelumnya.
Ilustrasi selanjutnya -yang saya rasa masih
berlaku hingga saat ini- terjadi para industri garmen, dimana dalam konteks
ini, justru kebalikan dari industri Cigar. Penggunaan teknologi dalam garmen, tidak
dilakukan secara otomasi penuh, namun pada proses menjahit dilakukan oleh
tangan-tangan terampil. Dan yang dianggap terampil secara tradisional dalam
proses tersebut adalah perempuan. Industri garmen perempuan telah diisi dari
berbagai wilayah, didukung dengan proses migrasi yang tinggi. Meskipun para perempuan
ini terampil, dan meskipun perdagangan mereka telah berhasil diserikatkan
selama bertahun-tahun, upah yang dibayarkan kepada operator mesin jahit,
seperti yang diharapkan, jauh lebih rendah daripada upah yang dibayarkan kepada
operator mesin terampil lainnya. Sebagai akibatnya, teknologi menjahit tetap
cukup statis
Selanjutnya perubahan mobilitas manusia, yang
memungkinkan ia bepergian secara cepat dan efektif melintasi daratan, untuk
perjalanan ke berbagai wilayah, hingga berpotensi menciptakan konflik, kemudian
dilegitimasi oleh penciptaan akan berbagai senjata, sebagai sebuah mekanisme
pertahanan dari serangan. Hasrat penaklukan dan kecanduan akan kemajuan yang
ditujukan untuk mempermudah kehidupan manusia terus bergulir dari masa ke masa.
Klimaksnya, manusia jatuh terhadap pengkultusan teknologi sebagai sesuatu di
atas segalanya. Glorifikasi atas teknologi, terus digaungkan dengan berbagai
rangkaian serinya, dimulai “Industri 1.0, 2.0, 3.0, 4.0, bahkan sudah masuk ke
5.0, dan deretan lainnya”. Tapi saya jadi teringat beberapa cerita kawan saya
yang mengharuskan memperbanyak (fotokopi) KTP elektronik untuk urusan daftar di
Puskesmas, saya jadi teringat jargon dari Eka Kurniawan; “Mimpi 4.0, bangun tidur
masih 1.0”.
Determinisme Sosial
Tentu teknologi tidak serta merta hadir
sendiri, ia merupakan proses penciptaan dan inovasi dari manusia, berarti hadirnya
teknologi di kehidupan kita bukan sebuah kodrat, namun diintervensi oleh satu
pemikiran yang antroposentris. Hal tersebut berarti manusia sebagai sentral dan
ia bebas menentukan keinginannya sendiri untuk memperbaiki kehidupannya, menyejahterakan
hidupnya, dan memudahkan manusia untuk melakukan kesehariannya. Proses
pemikiran tersebut menuntun pada perenungan atas berbagai kemajuan yang
terejawantahkan dalam produk teknologi.
Melihat teknologi sebagai sebuah ciptaan, maka ia
merupakan sebuah proses yang dipicu oleh perkembangan ilmu pengetahuan sejak
manusia ada di hidup ini. Akal manusia kemudian menuntun manusia untuk terus
mengembangkan dan menemukan berbagai teknologi, dengan motif ekonomi, politik,
atau mungkin nilai-nilai tertentu. Namun hal itu tidak berhenti begitu saja,
melainkan terjadi secara berkelanjutan, untuk mencoba menjelaskan akan kecanduan
kita terhadap teknologi, maka saya ingin meminjam kerangka pemikiran
Strukturalisme Bourdieu.
Dalam kerangka Strukturalisme Bourdieu, ia
menyebutkan adanya Habitus, yang berarti individu bukanlah agen yang sepenuhnya
bebas, ia dibentuk dari serangkaian kondisi historis sejak manusia lahir dan
berinteraksi dengan masyarakat dalam ruang dan waktu tertentu, sehingga
individu-individu tersebut mendapatkan intervensi dari pembelajaran lewat
pengasuhan dan sosialisasinya dalam masyarakat. Proses pembelajarannya yang
sangat halus, membuat hal itu terkadang tidak disadari dan tampil sebagai hal
yang wajar. Habitus berkaitan erat
dengan arena/ranah/medan (field), sehingga Habitus dipahami sebagai aksi
budaya.
Untuk menghubungkan antara Ranah (field) dengan
konteks determinisme sosial yang mengarah pada penciptaan teknologi. Ranah memiliki
arti sebagai ruang tempat para agen/aktor sosial yang saling bersaing untuk
mendapatkan berbagai sumber daya material, maupun kekuatan (power) simbolis.
Persaingan bertujuan untuk mendapatkan sumber yang lebih banyak sehingga
terjadi perbedaan antara agen yang satu dan agen yang lain. Semakin banyak
sumber yang dimiliki, semakin tinggi struktur yang dimiliki. Perbedaan tersebut
kemudian berkontribusi secara hierarkis sosial dan dilengkapi dengan legitimasi
seakan-akan menjadi suatu proses yang alamiah. Ranah menjelma menjadi kekuatan yang
secara parsial bersifat otonom dan di dalamnya berlangsung perjuangan posisi-posisi.
Posisi-posisi itu ditentukan oleh pembagian modal. Di dalam ranah para aktor ini kemudian bersaing untuk
mendapatkan berbagai bentuk sumber daya materiil maupun simbolik yang bertujuan
untuk memastikan perbedaan yang akan menjamin status aktor sosial.
Bourdieu juga membahas akan modal. Modal yang
ia artikan tidak terbatas pada modal ekonomi saja, melainkan modal budaya, serta
modal simbolik yang digunakan untuk merebut dan mempertahankan perbedaan dan
dominasi. Modal tentunya harus ada dalam setiap ranah, agar ranah kemudian
menjadi memiliki arti. Legitimasi aktor juga dipengaruhi oleh modal yang
dimiliki. Modal dapat dipertukarkan juga dapat diakumulasikan, karena itu
penting untuk ranah. Contohlah di negara tercinta kita, para pemilik usaha
kemudian terjun di bidang politik. Pengusaha yang memiliki modal ekonomi,
berlomba untuk merebut kursi legislatif maupun di eksekutif. Modal ekonomi
ditukar menjadi modal sosial (untuk mendapatkan kedudukan di pemerintahan dalam
arti luas). Selain dipertukarkan, juga terjadi pengakumulasian modal. Sebab,
seorang pengusaha yang sudah memiliki modal ekonomi bertambah lagi dengan modal
sosial, karena ia berhasil menjadi pejabat publik. Pengusaha yang memiliki satu
macam modal, menjadi mempunyai lebih dari satu macam modal sekaligus, yaitu
modal ekonomi, modal sosial dan modal simbolik.
Teori praktik yang mempengaruhi Determinisme
Sosial yang coba saya bangun dari kerangka Strukturalisme, dapat dinyatakan
dalam persamaan (Habitus X Modal) + Ranah = Praktik. Hasil daripada praktik
tersebut, turut berkontribusi terhadap keinginan manusia untuk terus
menciptakan teknologi. Namun lain halnya, jika modal ekonomi, dan pengetahuan
akan teknologi tersebut ‘nol’, maka praktiknya pun tidak bisa terejawantahkan
kedalam produk teknologi, melainkan masih dalam tataran imajiner.
Penutup
Jauh pembicaraan saya menuntun pada ingatan kembali
akan serial Doraemon dan membayangkan kemudahan di dalam rumah saya dengan
berbagai sentuhan teknologi canggih. Namun karena saya tidak memiliki ilmu dan
kemampuan untuk memikirkan konsep dan gagasan akan Doraemon di dunia nyata,
ditambah modal ekonomi yang terbatas untuk mengadopsi berbagai teknologi di
dalam rumah. Maka saya dapat menyimpulkan, kenikmatan teknologi bergantung pada
modal, dan agenda otomasi, serta glorifikasi akan kemajuan teknologi, belum
bisa dinikmati oleh setiap lapisan masyarakat. Ya sudah, besok saya akan
kembali menyapu, menyeduh kopi, mematikan lampu sendiri saja.

Comments
Post a Comment