Harapan Mengudara; Seperti Kembang Api yang Terlihat dari Atap Rumah

 

Foto: Leo Okuyama (unsplash.com) 

Kalo kita bersepakat dengan kalender masehi, maka sudah terhitung, nyaris 9 kali hubungan kita berganti tahun, dan setiap pergantian tahun hanya merupakan satu tanggal diantara tanggal-tanggal lain yang berbaris rapi di kalender, seperti tembok-tembok di setiap rumah yang memisahkan satu rumah dengan rumah berikutnya. Tetapi, bagi saya, hari ini -atau saya sebut tepatnya tahun ini- menyimpan makna tambahan sejak saya mengenalmu, yaitu perasaan yang menetap disaat tanggalan berganti.

Saya sering berfikir bahwa pernikahan tidak pernah benar-benar dimulai di hari akad, melainkan di hari-hari sesudahnya; ketika kita belajar memahami lelah masing-masing, ketika suara langkah di dalam rumah menjadi penanda bahwa saya tidak sendirian. Kamu hadir bukan sebagai jawaban tunggal atas semua kekurangan saya, melainkan sebagai seseorang yang bersedia tinggal dan bertumbuh bersama, meski tahu tanah tempat kita berpijak dan berjalan melewati batuan kerikil yang terlewati tidak sengaja maupun yang sengaja saya tabur.

Ada hari-hari ketika saya menyadari betapa perasaan yang kamu bangun, bekerja dengan cara sederhana. Tidak melulu lewat kata-kata besar, melainkan lewat perhatian kecil yang luput dari catatan; memastikan rumah tetap hidup, menjaga irama keseharian, membuka pintu yang lebar untuk aktualisasi diri saya, hingga tetap percaya kepada saya saat diri saya sendiri pun meragukan arah langkahnya. Dari situlah saya belajar bahwa menumbuhkan perasaan perlu didukung oleh upaya yang konsisten.

Dari atap rumah (meskipun aku tidak pernah berani untuk menaikinya, dan hanya membayangkannya) saya bisa melihat dunia dari jarak yang berbeda. Di sana, langit terasa lebih dekat, dan pikiran-pikiran datang tanpa perlu diundang. Saya memikirkanmu, memikirkan keluarga yang sedang kita bangun, dan menyadari bahwa keberanian terbesarku selain bermimpi yang tinggi, adalah berkomitmen untuk menjadi ruang aman dan pulang setiap hari, kepada orang yang sama, dengan niat yang terus dijaga.

Wujud harapan dalam pernikahan barangkali tidak melulu tentang rencana jangka panjang yang tersusun rapi. Ia sering hadir sebagai upaya untuk memperbaiki diri, sebagai kesediaan untuk mendengarkan lebih lama, atau sebagai tekad untuk tidak mengulangi kesalahan yang sama. Saya menarik pembelajaran itu darimu, dari caramu bersabar, dari caramu memahami.

Saya ingin menuliskan apresiasi ini tanpa menjadikanmu tokoh yang sempurna. Sebab, justru dalam ketidaksempurnaan itulah kita belajar untuk saling menguatkan. Untuk percaya dan meyakini, bahwa keluarga ini layak diperjuangkan, melampaui pergantian tahun masehi.

Malam tadi, 31 Desember 2025, dari jendela yang menghadap kepada barisan atap rumah tetangga, saya melihat berbagai kembang api meledak dari arah rumah tetangga kita, meskipun yang terhormat bapak Farhan walikota kita sudah melarang hal tersebut, rasanya, siapa juga yang bisa mengganti kebahagian sepersekian menit untuk menerbangkan kembang api setahun sekali, setidaknya anak-anak tetangga punya kesempatan untuk merasakan tidur di atas jam 12 malam disertai tertawa terbahak dan riang tengah malam menyaksikan kembang api memberikan warna-warni di langit Bandung yang gelap, setelah sebelumnya kenyang dengan jagung bakar.

Di dalam waktu yang sama, selain memikirkan larangan kembang api (yang saya tidak pedulikan), saya teringat kembali mimpi-mimpi kita tentang keluarga: sederhana, mungkin tidak selalu gemerlap (syukurlah pak walikota tidak turut intervensi kedalam urusan kebahagiaan rumah tangga), yang hangat dan cukup. Seperti kembang api itu, harapan kita tidak harus menyala, kadang cukup muncul sebentar, agar kita ingat mengapa kita memulainya.

Saya juga menyadari, bertumbuh adalah kemampuan bernegosiasi dengan proses yang tidak menentu, “gegayaannya” uncertainty. Ada hari dimana saya pulang membawa ego, ada hari dimana saya lebih sibuk membela diri daripada memberikan ruang aman. Untuk itu, catatan ini merupakan sebuah pengakuan juga; bahwa aku akan senantiasa belajar menjadi pasangan yang lebih hadir, dan manusia yang lebih layak dipercaya. Terima kasih karena kamu memberikan ruang bagiku untuk terus berkembang.

Perihal harapanku dalam pergantian tahun ini; semoga saya tidak berhenti belajar untuk menjadi lebih baik, konkretnya, menjadi pemberi ruang aman, pasangan yang lembut dan peka, serta teladan yang terus jujur. Bukan karena ingin terlihat benar, melainkan karena keluarga pantas mendapatkan versi terbaik dari diri saya.

Kelak, ketika kalender terus berganti dan usia pelan-pelan menambah jarak antara kita dan masa muda, saya berharap kita masih menemukan kebahagiaan dalam hal-hal detail. Duduk berdampingan, memangku kucing-kucing, menertawakan diri masing-masing, dan sekedar merasa cukup. Jika saya lupa, saya tahu caranya, saya akan berdiri menatap atap-atap tetangga, seperti malam barusan, membayangkan ada kembang api yang meledak-ledak di langit. Dan ini, bukan hanya sekadar angka di kalender, harus melampauinya. 


Comments

Popular posts from this blog

Menyimak Perempuan yang Selamat Dari Dalam Rumah

Jalan Berliku Di Bawah Langit Yang Biru

Di Antara Hal-Hal yang Terus Berubah