Menelusuri Embrio Pembangunan
Hegemoni pembangunan, mengarah pada sebuah
indikator yang harus dicapai oleh setiap wilayah yang menjadi naungan hidup
manusianya, singkatnya, sebuah negara. Indikator tersebut terlahir dari ide-ide
perihal kemajuan yang menjadi konsensus global. Terlepas dari berbagai skala
yang mengikatnya, berbagai pemaknaan terhadap indikator capaian pembangunan
tentu multitafsir, yang menyebabkan pembangunan menjadi sebuah kontestasi
gagasan hingga kepentingan yang seringkali mengarahkan pada narasi-narasi
sebagai metode menuju kesejahteraan, peningkatan kualitas hidup manusia dan
lingkungan, meskipun dibelakangnya berpotensi untuk meninggalkan efek negatif
bagi manusia, makhluk hidup lain dan lingkungannya.
Sekali lagi, penelusuran dalam kerangka historis, menjadi penting untuk melihat berbagai fase serta transisi atas ide pembangunan. Karena makna dari pembangunan itu sendiri sangat terikat dengan persoalan dalam hidup manusia, gejala sosial yang terjadi, pola pemikiran yang muncul, corak produksi, serta kehendak untuk maju, maka ia perlu dilihat secara dialektis, pada berbagai babak peradaban kehidupan manusia, yang dalam hal ini, saya akan memulai dengan perubahan dari abad pertengahan menuju Renaissance, kemudian melanjutkan pada revolusi sains, hingga titik awal Kapitalisme menuju revolusi industri, sampai kepada dominasi Modernitas a la Barat.

Kerja Visual oleh Alfian Moh (MKMR)
Kerangka Historis Pemicu Babak Renaissance
Willis dalam Theories and Practices of
Development
Perjalanan kait kelindan antara pembangunan dan
modernitas, merupakan sebuah proses panjang yang terpantik dalam tiap tahapan
peradaban manusia. Mengambil titik awal perjalanan pada era awal abad
pertengahan di Eropa umumnya dianggap sebagai era kegelapan, atau The Dark
Ages. Setelah runtuhnya Kekaisaran Romawi, Eropa menghadapi kemunduran
kondisi politik, ekonomi dan sosial. Gejala “gelap”, dimaknai oleh para
sejarawan karena keterkaitan era tersebut dengan kebiasaan serta cara dalam
praktik feodalisme. Konflik antar kelas yang terjadi antara orang Barbar,
Viking dan bangsawan feodal dengan rakyat jelata, menyebabkan rakyat jelata
atau orang-orang kelas bawah, terjerembab dalam perbudakan. Dalam Citizens
to Lord, karya dari
Ada hal menarik yang dapat ditangkap sebagai
satu gejala pada abad Imperium Romawi hingga abad pertengahan Eropa yang
berkesinambungan, yaitu doktrinasi dari Gereja. Persoalan kehidupan yang selalu
dikaitkan dengan ketentuan Tuhan, membuat tujuan hidup manusia adalah tentang
mencari keselamatan. Santo Agustinus, menjadi salah satu pemikir gereja
terkemuka di era naiknya agama Kristen sejak era Imperium Romawi, yang dalilnya
digunakan untuk mengambil keuntungan dari semakin besarnya kekuasaan negara dan
semakin terpinggirnya peranan warga-petani. Agustinus ingin meyakinkan bahwa
ke-Kristen-an bukanlah musuh para elite negara, begitupun sebaliknya.
Geraja tidak perlu takut dengan otoritas negara, meskipun negara tengah
dimpimpin oleh elit yang sama sekali tidak Kristiani. Salah satu ide dari
Agustinus untuk menjelaskan hal tersebut adalah doktrin tentang “dosa asal” (original
sin). Doktrin ini mengatakan bahwa, potensi manusia dalam
mengaktualisasikan potensi akal budinya dengan bijak, beriringan dengan
kecenderungan untuk berbuat dosa dan menjauhi Tuhan. Untuk itu, manusia –
terutama umat Kristen – perlu mengikuti gereja sebagai otoritas spiritual demi
keselamatan di hari akhir. Namun, institusi gereja memiliki keterbatasan dalam
menegaskan kedaulatannya di bumi. Oleh karena itu, perlu penyerahan kedaulatan
di bumi kepada institusi negara, sekalipun negara tersebut sangat pagan dan
anti-kristen, untuk menjaga manusia dari kecenderungannya berdosa di bumi.
Untuk memperkuat otoritas dan jangkauan
kekuasannya, maka negara perlu memperkuat rezim kepemilikan pribadi atas
properti, terutama tanah, bagi para tuan tanah, pejabat publik dan militer.
Kedaulatan negara serta perluasan kekaisaran berkaitan erat dengan kekuatan
para penguasa dan perlindungan atas rezim kepemilikan pribadi. Munculnya
doktrin Kristen, juga tidak terlepas dari konteks ini, yang akhirnya membuat
Gereja harus mengambil suatu solusi melalui pelanggengan dukungan kepada rezim
dan kepemilikan pribadi, agar penyebaran agama kristen, serta otoritas gereja
tetap berkesinambungan. Kepentingan tersebut, telah mempertemukan berbagai
pihak satu sama lainnya. Namun, hak-hak serta kontribusi para rakyat, petani
dan budak, telah termarjinalisasi dari kepentingan tersebut.
Kembali lagi, meminjam pemikiran dari Wood, kesenjangan
antara kelas yang menguasai aset, terutama tanah dan kelas produsen, terutama
petani penggarap, yang dilembagakan oleh negara, gereja dan hukum, berdasarkan
dalil filosofis tentang kesetaraan manusia. Paradoks tersebut, yang memberikan
warna pada pemikiran politik Barat pasca Abad Pertengahan dan seterusnya.
Otoritas Argumen hingga Revolusi Sains
Argumen berbasis otoritas mewarnai corak
pemikiran dan perkembangan ilmu pengetahuan pada masa abad pertengahan.
Kebenaran suatu argumen, dapat dinyatakan benar apabila argumen tersebut dapat
dirujuk asal usulnya pada satu teori yang dikemukakan oleh guru-guru
sebelumnya, apakah itu Plato, Aristoteles atau pemikir-pemikir lain yang
membentuk teori pada era sebelum Renaissance. Dapat dimaknai, bahwa cara
pandang pada masa tersebut adalah Backward Looking, karena melihat
kebelakang, melalui penelusuran teori atau kebenaran yang berasal dari era
sebelumnya atau masa lalu, sehingga apa yang ditemukan selanjutnya adalah hanya
proses konfirmasi atas apa yang telah diketahui pada masa sebelumnya.
Dominasi Gereja sangat kuat terhadap berbagai
aspek kehidupan, hingga mempengaruhi berbagai kebijakan yang dibuat oleh
raja-raja, dengan tujuan untuk kepentingan gereja. Sebaliknya, hal-hal yang
dianggap merugikan gereja akan mendapatkan balasan. Contohnya terhadap Nicolaus
Copernicus karena teori tata suryanya yang menyebutkan bahwa matahari merupakan
pusat dari galaxi. Lewat penelitian astronomisnya, menghasilkan otoritas
astronomi tradisional yang didominasi oleh Aristoteles yang menolak bahwa bumi
adalah pusat semesta. Konsep tersebut kemudian dibukukan dalam karyanya yang
berjudul De Revolutionibus Orbium Coelestium yang baru terbit pada Tahun
1687 dan berisikan tentang peredaran benda-benda angkasa. Hal itu kemudian
didukung oleh temuan Galileo-Galilei dalam bentuk teleskop dan berhasil
membuktikan kebenaran teori Copernicus. Hal tersebut mengguncang kemapanan penafsiran
otoritas religi hingga menyebabkan ia dipanggil untuk dihukum di Roma, dengan
cara dicukil matanya.
Pergeseran cara pandang terhadap ilmu atau
kebenaran terjadi saat masa Renaissance. Upaya untuk melihat ulang
teks-teks Aristoteles, kemudian penyelidikan Copernicus dan penemuan dari
Galileo-Galilei memicu terhadap penyelidikan secara empiris, seperti yang
dilakukan oleh Aristoteles pada masanya. Hal tersebut menggambarkan sebuah
perubahan yang tadinya berpangku pada otoritas argumen atau teks pada masa
sebelumnya, menjadi sebuah proses dengan menambahkan upaya empiris atas kondisi
pada masa saat ini, sehingga muncul menjadi sebuah gagasan dalam filsafat yang
dikenal dengan nominalisme. Gagasan ini mempertegas corak pemikiran sebelumnya
yang lebih mengarah secara universal, sekaligus menentang bahwa tidak ada hal
yang universal, karena segala sesuatu tersebut sifatnya partikular atau khusus,
dan harus dikenali satu persatu tanpa mengasumsikan adanya otoritas universal
yang mengatur segala sesuatu. Nominalisme semacam ini mendorong sikap ilmiah,
yang memungkinkan untuk mengembangkan cara berfikir yang tidak mendasarkan
dirinya pada berbagai otoritas pernyataan yang sifatnya universal, misalkan
“semua benda pasti akan jatuh ke bumi, karena pada kodratnya setiap benda jatuh
ke bumi”. Hal itu tidak lagi dianggap sebagai sesuatu yang bercorak benar
sepenuhnya, tetapi bisa disanggah, sekaligus bisa dipertanyakan.
Kondisi tersebut yang menjadi pemantik atas
lahirnya Revolusi Sains, Thomas Kuhn menganalisa periode tersebut dalam
suatu model yang menggambarkan suatu siklus transisi dari revolusionari sains
ke normal sains
Pola pencarian sumber ilmu pengetahuan dalam
revolusi sains, menitikberatkan pada akal (rasionalitas) dan pengalaman
inderawi (empirisme), yang kemudian menjadi sebuah konsep yang bernama
epistemologi. Selain kepada metode, revolusi sains pun menawarkan sebuah
analisa terhadap realitas yang dibagi menjadi obyek, yaitu alam fisik (cosmos),
manusia (antropos) dan Tuhan (Teos) yang terikat dalam konsep ontologi
Berterima Kasih pada era Renaissance,
Revolusi Sains atas Revolusi Industri
Revolusi tidak dimulai oleh satu
tindakan, melainkan konvergensi dari ide, gagasan, dan nilai-nilai yang ada
pada saat itu yang memantik berbagai perkembangan secara terus menerus. Dalam
konteks pembangunan, salah satu fase krusial yang penting untuk ditelusuri
adalah revolusi industri. Kenapa demikian, karena pada masa itu terjadi perubahan
terhadap corak produksi melalui penemuan mesin uap, hingga mempengaruhi sistem
sosial yang berlangsung secara cepat. Seperti singkat, tapi dalam tulisan ini,
saya ingin mencoba menelusuri pengaruh dari renaissance serta revolusi
sains yang menjadi pemantik munculnya revolusi industri.
Renaissance serta revolusi sains
menjadi titik penting keberangkatan awal kita. Karena ada proses transformasi
penilaian terhadap hakikat diri manusia, yang awalnya manusia berfikir bahwa
manusia adalah orang yang berziarah ke di dunia ini (Victor Mundi)
menjadi manusia yang berfikir untuk menciptakan dunianya (Faber Mundi). Hal
ini juga dikokohkan oleh René Descartes yang meletakkan dasar filosofis
lewat penemuan subyektivitas manusia dalam tesisnya yaitu “aku berpikir, maka
aku ada”
Ciri-ciri yang antroposentris, muncul
untuk menegaskan sikap kritisnya terhadap teosentrisme Abad Pertengahan. Sikap
tersebut akhirnya memicu hubungan yang khas antara perkembangan ilmu-ilmu
pengetahuan dan sikap skeptis terhadap agama. Isaac Newton, dengan fisikanya
memberi kita suatu keyakinan rasional bahwa alam bekerja secara mekanis seperti
sebuah arloji, dan akal budi manusia dapat menyingkap hukum-hukum yang bekerja
di belakang proses-proses alamiah. Sekali lagi. Akal budi manusia, bukanlah
wahyu Ilahi. Tampak jelas pemikiran Antroposentrisme yang mengutamakan otoritas
diri sebagai manusia, yang otonom dari simbol-simbol religi serta menghargai
kehendak, kebebasan serta nilai-nilai kodrati manusia.
Di atas Humanisme yang sangat
Antroposentris pun terasa Sekular, tumbuhlah berbagai pengetahuan, teknologi,
industri, birokrasi, profesi, dan konsumsi yang sampai hari ini memberikan
keyakinan bahwa kehidupan ada dalam kendali manusianya. Elaborasi antar
pemikiran dalam kerangka historis pada era Renaissance, revolusi sains
dan humanisme, memunculkan berbagai temuan dan pemikiran yang selanjutnya menjadi
efek domino bagi revolusi industri, yaitu:
a. Roger Bacon
Menyatakan pendapat
bahwa pengalaman (empiris) menjadi landasan utama bagi awal dan ujian akhir
bagi semua ilmu pengetahuan, dan matematika merupakan syarat mutlak untuk
mengolah semua pengetahuan.
b. Copernicus
Dalam gagasannya
menyebutkan bahwa bumi serta planet, semuanya mengelilingi matahari, sehingga
matahari menjadi pusat (heliosentrisme).
c. Johannes Kepler
Menemukan tiga buah
hukum yang melengkapi penyelidikan Brahe sebelumnya, yaitu:
1) Bahwa gerak benda angkasa itu ternyata bukan bergerak
mengikuti lintasan circle, namun gerak itu mengikuti lintasan elips. Orbit
semua planet berbentuk elips.
2) Dalam
waktu yang sama, garis penghubung antara planet dan matahari selalu melintasi
bidang yang luasnya sama.
3) Dalam perhitungan matematika terbukti bahwa bila jarak
rata-rata dua planet A dan B dengan matahari adalah X dan Y, sedangkan waktu
untuk melintasi orbit masingmasing adalah P dan Q, maka P2 : Q2 = X3 : Y3.
d. Galileo Galilei
Beliau membuat sebuah teropong bintang yang terbesar pada
masa itu dan mengamati beberapa peristiwa angkasa secara langsung. Ia menemukan
beberapa peristiwa penting dalam bidang Astronomi. Ia melihat bahwa planet
Venus dan Mercurius menunjukkan perubahan-perubahan seperti halnya bulan,
sehingga ia menyimpulkan bahwa planet-planet tidaklah memancarkan cahaya
sendiri, melainkan hanya memantulkan cahaya dari matahari.
Seperti judul di atas, bahwa kita harus
berterima kasih pada era-era yang memantik perjalanan revolusi industri. Karena
berkat upaya intelektual yang gigih untuk memaknai kemanusiaan dan menghidupkan
serta menemukan berbagai ciptaan yang terus berkelindan, revolusi industri
akhirnya dapat terpantik, dan menciptakan revolusi lain, bahkan hingga memiliki
nomornya, dari mulai Revolusi 1.0, 2.0, 3.0, 4.0, 5.0, dan seterusnya.
Munculnya Kapitalisme
Ada beberapa posisi yang menyatakan tentang
kapan Kapitalisme tersebut muncul secara penuh. Etienne Balibar, misalnya,
menyatakan bahwa kapitalisme sempat mengalami keterputusan dari feodalisme saat
revolusi industri pada abad ke-18. Dimana ia juga menyatakan bahwa periode 1500
– 1700 merupakan “transisi menuju kapitalisme”, sedangakan periode 1750
merupakan periode kapitalisme yang penuh. Posisi lainnya menyatakan bahwa
keterputusan tersebut bukan terjadi pada masa Revolusi Industri, melainkan pada
masa ekspansi Eropa dan penciptaan pasar dunia pada abad ke -16. Paul Sweezy,
menyatakan bahwa bagi Marx, periode manufaktur (1500 – 1750) dan periode
industri modern bukanlah dua sistem sosial yang berbeda, melainkan hanya dua
fase dari sistem yang sama, yakni Kapitalisme. Namun, saya tidak akan mencoba
memutuskan pada bagian yang mana kapitalisme tersebut muncul. Melainkan, sudah
ada konsolidasi pasar dunia, yang kalaupun tidak bisa dikatakan sebagai tanda
dari kemunculan kapitalisme, tetapi menjadi pemicu untuk mendorong kemunculan
kapitalisme. Zona-zona perdagangan, telah terbentuk pada abad ke-11 sampai
ke-13 di Eropa. Beberapa kota di Italia menjadi pusat perdagangan yang sangat
kuat sampai abad ke-16. Lalu, sekitar 1600, posisi ini mulai beralih ke Antwerp
di Belgia dan selanjutnya ke Amsterdam di Belanda
Pada masa Renaissance, perdagangan
berpusat di kota-kota, bukan negara. Baru kemudian, muncul “pasar nasional” di
Eropa dan kebijakan negara yang berusaha melindungi pasar nasional. Diskursus
ekonomi pada ranah seputar perukaran dan sirkulasi penciptaan kekayaan kemudian
muncul dengan istilah merkantilisme. Namun dari pemikiran Wood dalam The
Origin of Capitalism A Longer View
Berdasarkan narasi historis, titik mula itu
adalah Inggris. Di abad 16, karakter lapisan kelas masyarakat Inggris memiliki
ciri Monarki yang sentralistik. Mekanisme paksaan melalui penggunaan senjata
dimonopoli oleh kerajaan. Akibatnya, kaum aristokrat tuan tanah di Inggris
dilucuti dari berbagai kewenangan untuk mendapatkan upeti dari petani. Lantas,
bagaimana mereka bertahan tanpa upeti, meskipun mereka menguasai tanah yang
teramat luas? Ketiadaan kewenangan tersebut menyebabkan mereka menjadi
tergantung pada harga pasar untuk sewa tanah. Berbeda dengan negara-negara tetangga di mana
ongkos sewa tanah nilainya relatif stabil, yang diintervensi oleh kesepakatan
jangka panjang. Tuan tanah di Inggris, harus menyewa surveyor untuk
memperkirakan berapa harga sewa yang seharusnya mampu diraup melalui mekanisme
pasar. Hal tersebut yang menyebabkan nilai sewa tanah berubah secara fluktuatif
seiring dengan ongkos dan hasil produksi serta konsumsi yang digerakan oleh
pasar. Sementara itu, kesenjangan penguasaan tanah yang begitu timpang, para
produsen (petani penggarap) di Inggris harus bersaing menawarkan harga sewa
paling tinggi untuk mendapatkan akses tanah dan melanjutkan produksi. Agar bisa
menawarkan harga sewa paling tinggi, petani-petani tersebut terus meningkatkan
produktivitas dan mengurangi biaya sehemat mungkin. Laba produksi, pada
akhirnya tidak bisa diandalkan untuk memenuhi tuntutan ongkos sewa yang
kompetitif karena hasil penjualan bukanlah sesuatu yang dapat mereka
kendalikan, melainkan oleh pasar.
Di sinilah pasar menjadi kekuatan yang memaksa,
bukan sebuah pilihan sebagaimana sistem sebelumnya, dimana para penghasil atau
produsen bebas menjual atau tidak menjual hasil produksinya karena mereka
memiliki akses non-pasar terhadap sarana reproduksi sosial untuk bertahan
hidup. Inilah pemicu Kapitalisme, bahwa pasar bukanlah menjadi mekanisme
perdagangan biasa, melainkan menjadi penentu utama, bahkan masuk menjadi
pengatur seluruh aspek kehidupan lainnya, termasuk keberlangsungan hidup itu
sendiri.
Berlangsungnya dalil pokok Kapitalisme, dimana
pasar menjadi paksaan sekaligus penggerak ekonomi yang menyediakan prakondisi
untuk Revolusi Industri. Persaingan pasar yang terbentuk, dan kompetitif,
menghasilkan petani yang kalah bersaing hingga berakibat pada kehilangan tanah.
Tiada pilihan lain, kecuali pergi ke London sebagai buruh ‘bebas’ menawarkan
tenaga kerja.
Barat Turut Memberi Corak Modernitas
Ide pembangunan yang ditelusuri melalui
berbagai perubahan sistem sosial masyarakat, politik, ekonomi, kultural serta
transformasi pemikiran yang telah dikemukakan sebelumnya, ternyata bermuara
pada satu gagasan, yaitu modernitas. Jika meninjau secara historis, cikal bakal
modernitas telah ada sejak Renaissance, dan mencapai puncaknya pada abad
ke -19 dan 20 (setelahnya Pasca/Post Modern?). Gejalanya dapat
didiagnosa dari proses industrialisasi, urbanisasi, resionalisasi, birokratisasi,
demokratisasi, kapitalisme, individualistis, serta tak ketinggalan, akal dan
sains (Sztompka, 1993).
Gagasan modernitas sendiri dipengaruhi oleh falsafah
yang berkembang di Eropa, dan menjadi salah satu konsep yang berpengaruh dalam kehidupan
bermasyarakat dan bernegara. Secara garis besar dapat digeneralisasikan atas
dasar kemajuan manusia terhadap konstruksi tradisional
Hal ini juga menjadi pemikiran dari
Berman, yang coba saya cuplik pada tulisan ini.
“Modernity
promises us adventure, power, joy, growth, transformation of ourselves and the
world – and at the same time- that threatens to destroy everything we have,
everything we know, everything we are (Berman, 1983)”
Diskursus modernitas masih pada pergumulan dikotomis
perihal masyarakat maju dan belum -atau bahkan tidak- maju. Namun, terlepas
dari berbagai kondisi atas modernitas yang muncul dalam kehidupan kita. Tak
kalah pentingnya kita juga bisa mengidentifikasi berbagai tipe modernitas ala
Barat yang secara hegemonik tak lagi dibatasi oleh batas-batas regional. Secara
politis, gagasan dari kebebasan, kesetaraan, demokrasi, nasionalisme, berkembang
secara cepat pada masyarakat barat. Konsekuensinya adalah, sistem monarki menjadi
luntur, dan konsepsi demokratis menjadi populer. Secara ekonomi, itu terjadi
setelah revolusi industri dimana komponen politik modern melekat dengan pertumbuhan
pesat pembangunan ekonomi yang berdampak terhadap urbanisasi massal.
Produk-produk hasil dari kebaruan industri saat itu ditambah permintaan yang
luas untuk bahan baku, menuntun kita pada kolonialisme, dan itu memberi ruang bagi
barat dalam memperluas konsepsi atas modernitas
Kolonialisme sendiri merupakan
sebuah proses untuk mengeksploitasi sistem ekonomi, politik, hingga budaya pada
negara terjajah, yang pada abad ke-16 dilakukan oleh Eropa Barat kepada negara
non-Barat diikuti dengan penjelajahan rute laut di Selatan Afrika dan Amerika. Hal
tersebut dilegitimasi oleh negara-negara Eropa Barat (Prancis, Portugal,
Belanda, Inggris dan Jerman) sebagai misi pembudayaan pada abad ke -15 hingga
20 dengan menjajah sebagian besar wilayah Afrika, Asia, serta Filipina.
Dalam
memetakan modernitas gaya barat, saya ingin menggunakan pendekatan yang
dilakukan oleh Marshall Berman dengan membagi modernitas kedalam tiga fase:
a. Fase Pertama
Abad ke-15 hingga 1789, sebagai awal mula modernitas,
dimana manusia mulai memiliki keingintahuan untuk mengeksplorasi kemajuan dalam
kehidupan.
b. Fase Kedua
1789 – 1900, pengembangan
kehidupan yang modern melalui penemuan teknologi seperti mesin uap, transportasi
kereta api, kawasan industri dan perkembangan media cetak.
c. Fase Ketiga
1901 hingga abad ke-20, kemajuan
tidak terbatas pada teknologi saja, namun juga perkembangan secara institusional,
termasuk pengidentifikasian negara-negara yang tertinggal untuk diintervensi
menjadi modern, melalui standar-standar kemajuan atau modernitas yang telah disepakati
oleh negara-negara maju.
Marx turut mendefinisikan masyarakat
modern melalui sudut pandang ekonomi. Ia meyakini bahwa pembangunan yang
kapitalistik akan membuat masyarakat menjadi maju dan modern, bahkan disebut
sebagai kemajuan yang nyata. Tetapi ia juga mengkritik sistem borjuis, dimana
buruh dieksploitasi. Karena menurutnya, modal bukanlah kepemilikan pribadi,
tetapi kekuatan sosial yang tidak bisa diubah menjadi kepemilikan pribadi. Di
sisi yang lain, Marx juga menekankan pada pembentukan pemerintahan komunis
untuk menghilangkan kepemilikan pribadi, eksploitasi dan ketidaksetaraan sosial
Penutup
Refleksi pada pendobrakan atas
otoritas doktrin agama menuju awal pembaharuan pada masa Renaissance
telah mendorong manusia sehingga tersentralistis sebagai pihak yang terus
menerus melakukan eksplorasi, mencari definisi atas kemajuan itu sendiri pada
masanya masing-masing. Pergolakan pemikiran yang terjadi berabad-abad lamanya,
membentuk proses revolusi pada sains yang menjadi saksi atas berubahnya peradaban
manusia pada berbagai ruang. Tak ketinggalan, skala, model, dan
operasionalisasi industri turut berevolusi hingga berpengaruh tidak lagi pada
proses ekonomi saja, namun sosio-kultural dan politik. Hukum alam perihal siapa
yang paling kuat, ia yang dapat bertahan, menuntun manusia untuk menjelajah
sekaligus menjajah berbagai wilayah di muka bumi ini. Hegemonisasi atas
berbagai wacana serta gagasan atas kemajuan tak terelakkan lagi. Hingga hari
ini, kita bisa menikmati berbagai kemajuan, kemudahan, kecepatan, kecanduan
akan berbagai perubahan yang singkat, ditambah, satu paket dengan kemunduran,
kesulitan, perlambatan, pada beberapa aspek atau kelompok masyarakat lainnya.
Ini menuntun saya pada penutup dari
perjalanan menelusuri embrio pembangunan yang telah coba saya lakukan. Tentunya
ini bukanlah sebuah akhir dari perjalanan, karena pembangunan tidak pernah tidur,
ia bergumul dengan proses eksplorasi manusia untuk terus maju dalam
mendefinisikan kemajuan yang entah sampai kapan berhenti, seiring dengan
bentuk-bentuk modernitas yang juga bertransformasi menjadi pasca modernitas
dengan segala persoalan yang penting untuk dikaji. Segala hal yang terlahir
dalam narasi pembangunan, kemajuan, hingga bentuk-bentuk modernitas, terkoneksi
dengan berbagai aspek dalam kehidupan kita saat ini.
Bahan Bacaan
Citizens to Lords A Social
History of Western Political Thought from Antiquity to the Late Middle Ages
(Ellen Meiksins Wood) (z-lib.org). (n.d.).
Fernand Braudel. (n.d.). THE
STRUCTURES OF EVER YDA Y LIFE.
Filsafat Ilmu Pengetahuan
Perspektif Barat dan Islam (Prof. Darwis A. Soelaiman, Ph.D.) (z-lib.org). (n.d.).
Hardiman, A. F. B. (n.d.). Humanisme dan Sesudahnya.
Heiskala, R. (1986). Marx,
the Modern World, and the Problem of Social Regulation.
Jurgen Habermas. (1990). The
Philosophical Discourse of Modernity (Jurgen Habermas, Thomas McCarthy etc.)
(z-lib.org).
Kuhn, T. S. (1962). The
Structure of Scientific REVOLUTIONS FOURTH EDITION With an Introductory Essay
by Ian Hacking.
Saifullah. (n.d.). Renaissance
dan Humanisme Sebagai Jembatan Lahirnya Filsafat Modern.
Shafiqur Rahaman, Md. (2022).
Western Modernity: The Origin, Development and the Limitation. Advances in
Sciences and Humanities, 8(1), 5.
https://doi.org/10.11648/j.ash.20220801.12
Willis, & Katie. (n.d.). Theories
and Practices of Development.
Comments
Post a Comment