Menelusuri Embrio Pembangunan

Kemajuan demi kemajuan pada berbagai sektor telah membersamai kehidupan kita saat ini. Terlepas dari berbagai persoalan dan kontradiksi atas kemajuan yang muncul, perlu kiranya kita dapat menelusuri secara historis, darimana makna kemajuan tersebut ada, hingga apa yang dimaksud dengan maju. Dalam kerangka praktis, tentu kemajuan harus diukur dari serangkaian indikator, kemudian diimplementasikan oleh kegiatan pembangunan. Artinya, pembangunan memiliki peran sentral atas kehendak untuk maju. Namun belum selesai sampai disitu, arena pembangunan bukanlah sebuah ruang kosong, melainkan sebuah arena pertarungan dialektis pun politis atas berbagai gagasan yang berasal dari pihak yang beragam. Agenda kepentingan global, nasional hingga akar rumput, turut berkontribusi atas konsepsi pembangunan pada areanya tersendiri.

Hegemoni pembangunan, mengarah pada sebuah indikator yang harus dicapai oleh setiap wilayah yang menjadi naungan hidup manusianya, singkatnya, sebuah negara. Indikator tersebut terlahir dari ide-ide perihal kemajuan yang menjadi konsensus global. Terlepas dari berbagai skala yang mengikatnya, berbagai pemaknaan terhadap indikator capaian pembangunan tentu multitafsir, yang menyebabkan pembangunan menjadi sebuah kontestasi gagasan hingga kepentingan yang seringkali mengarahkan pada narasi-narasi sebagai metode menuju kesejahteraan, peningkatan kualitas hidup manusia dan lingkungan, meskipun dibelakangnya berpotensi untuk meninggalkan efek negatif bagi manusia, makhluk hidup lain dan lingkungannya.

Sekali lagi, penelusuran dalam kerangka historis, menjadi penting untuk melihat berbagai fase serta transisi atas ide pembangunan. Karena makna dari pembangunan itu sendiri sangat terikat dengan persoalan dalam hidup manusia, gejala sosial yang terjadi, pola pemikiran yang muncul, corak produksi, serta kehendak untuk maju, maka ia perlu dilihat secara dialektis, pada berbagai babak peradaban kehidupan manusia, yang dalam hal ini, saya akan memulai dengan perubahan dari abad pertengahan menuju Renaissance, kemudian melanjutkan pada revolusi sains, hingga titik awal Kapitalisme menuju revolusi industri, sampai kepada dominasi Modernitas a la Barat.  

Visual karya Moh Alfian (MKMR)
Kerja Visual oleh Alfian Moh (MKMR)

 

Kerangka Historis Pemicu Babak Renaissance

Willis dalam Theories and Practices of Development (Willis & Katie, n.d.) membahas, bahwa ide dari pembangunan seringkali berkaitan dengan gagasan modernitas, yang berisikan tentang kondisi menjadi modern, baru atau up-to-date. Oleh karena itu gagasan modernitas dipengaruhi oleh manusia dalam satuan waktu tertentu. Karena sifat dari sosial, ekonomi, politik dan kebudayaan tersebut sangat dinamis, maka apa yang dimaksud dengan modernitas akan berubah seiring waktu dan juga secara spasial. Apa yang dimaksud modern pada satu tempat, bisa jadi “ketinggalan zaman” pada tempat yang lainnya.  

Perjalanan kait kelindan antara pembangunan dan modernitas, merupakan sebuah proses panjang yang terpantik dalam tiap tahapan peradaban manusia. Mengambil titik awal perjalanan pada era awal abad pertengahan di Eropa umumnya dianggap sebagai era kegelapan, atau The Dark Ages. Setelah runtuhnya Kekaisaran Romawi, Eropa menghadapi kemunduran kondisi politik, ekonomi dan sosial. Gejala “gelap”, dimaknai oleh para sejarawan karena keterkaitan era tersebut dengan kebiasaan serta cara dalam praktik feodalisme. Konflik antar kelas yang terjadi antara orang Barbar, Viking dan bangsawan feodal dengan rakyat jelata, menyebabkan rakyat jelata atau orang-orang kelas bawah, terjerembab dalam perbudakan. Dalam Citizens to Lord, karya dari Wood, menjelaskan bahwa keadaan tersebut dipicu oleh sejarah pemikiran politik Barat dari Zaman Yunani Kuno hingga Abad Pertengahan yang didominasi oleh dua ketegangan; pertama, ketegangan antar kelas yang menguasai kepemilikan aset terutama tanah vis-à-vis demos, yaitu rakyat banyak yang rata-rata berprofesi sebagai petani penggarap; dan kedua, persoalan menjustifikasi kekuasaan negara yang absolutis, ditambah ketimpangan politik, ekonomi, sosial dan legal yang dilembagakan berdasarkan hukum alam (natural law). Hal tersebut menyebabkan, krisis ekonomi, serangkaian perang saudara, hingga pagebluk.

Ada hal menarik yang dapat ditangkap sebagai satu gejala pada abad Imperium Romawi hingga abad pertengahan Eropa yang berkesinambungan, yaitu doktrinasi dari Gereja. Persoalan kehidupan yang selalu dikaitkan dengan ketentuan Tuhan, membuat tujuan hidup manusia adalah tentang mencari keselamatan. Santo Agustinus, menjadi salah satu pemikir gereja terkemuka di era naiknya agama Kristen sejak era Imperium Romawi, yang dalilnya digunakan untuk mengambil keuntungan dari semakin besarnya kekuasaan negara dan semakin terpinggirnya peranan warga-petani. Agustinus ingin meyakinkan bahwa ke-Kristen-an bukanlah musuh para elite negara, begitupun sebaliknya. Geraja tidak perlu takut dengan otoritas negara, meskipun negara tengah dimpimpin oleh elit yang sama sekali tidak Kristiani. Salah satu ide dari Agustinus untuk menjelaskan hal tersebut adalah doktrin tentang “dosa asal” (original sin). Doktrin ini mengatakan bahwa, potensi manusia dalam mengaktualisasikan potensi akal budinya dengan bijak, beriringan dengan kecenderungan untuk berbuat dosa dan menjauhi Tuhan. Untuk itu, manusia – terutama umat Kristen – perlu mengikuti gereja sebagai otoritas spiritual demi keselamatan di hari akhir. Namun, institusi gereja memiliki keterbatasan dalam menegaskan kedaulatannya di bumi. Oleh karena itu, perlu penyerahan kedaulatan di bumi kepada institusi negara, sekalipun negara tersebut sangat pagan dan anti-kristen, untuk menjaga manusia dari kecenderungannya berdosa di bumi.  

Untuk memperkuat otoritas dan jangkauan kekuasannya, maka negara perlu memperkuat rezim kepemilikan pribadi atas properti, terutama tanah, bagi para tuan tanah, pejabat publik dan militer. Kedaulatan negara serta perluasan kekaisaran berkaitan erat dengan kekuatan para penguasa dan perlindungan atas rezim kepemilikan pribadi. Munculnya doktrin Kristen, juga tidak terlepas dari konteks ini, yang akhirnya membuat Gereja harus mengambil suatu solusi melalui pelanggengan dukungan kepada rezim dan kepemilikan pribadi, agar penyebaran agama kristen, serta otoritas gereja tetap berkesinambungan. Kepentingan tersebut, telah mempertemukan berbagai pihak satu sama lainnya. Namun, hak-hak serta kontribusi para rakyat, petani dan budak, telah termarjinalisasi dari kepentingan tersebut.

Kembali lagi, meminjam pemikiran dari Wood, kesenjangan antara kelas yang menguasai aset, terutama tanah dan kelas produsen, terutama petani penggarap, yang dilembagakan oleh negara, gereja dan hukum, berdasarkan dalil filosofis tentang kesetaraan manusia. Paradoks tersebut, yang memberikan warna pada pemikiran politik Barat pasca Abad Pertengahan dan seterusnya.

Otoritas Argumen hingga Revolusi Sains

Argumen berbasis otoritas mewarnai corak pemikiran dan perkembangan ilmu pengetahuan pada masa abad pertengahan. Kebenaran suatu argumen, dapat dinyatakan benar apabila argumen tersebut dapat dirujuk asal usulnya pada satu teori yang dikemukakan oleh guru-guru sebelumnya, apakah itu Plato, Aristoteles atau pemikir-pemikir lain yang membentuk teori pada era sebelum Renaissance. Dapat dimaknai, bahwa cara pandang pada masa tersebut adalah Backward Looking, karena melihat kebelakang, melalui penelusuran teori atau kebenaran yang berasal dari era sebelumnya atau masa lalu, sehingga apa yang ditemukan selanjutnya adalah hanya proses konfirmasi atas apa yang telah diketahui pada masa sebelumnya.

Dominasi Gereja sangat kuat terhadap berbagai aspek kehidupan, hingga mempengaruhi berbagai kebijakan yang dibuat oleh raja-raja, dengan tujuan untuk kepentingan gereja. Sebaliknya, hal-hal yang dianggap merugikan gereja akan mendapatkan balasan. Contohnya terhadap Nicolaus Copernicus karena teori tata suryanya yang menyebutkan bahwa matahari merupakan pusat dari galaxi. Lewat penelitian astronomisnya, menghasilkan otoritas astronomi tradisional yang didominasi oleh Aristoteles yang menolak bahwa bumi adalah pusat semesta. Konsep tersebut kemudian dibukukan dalam karyanya yang berjudul De Revolutionibus Orbium Coelestium yang baru terbit pada Tahun 1687 dan berisikan tentang peredaran benda-benda angkasa. Hal itu kemudian didukung oleh temuan Galileo-Galilei dalam bentuk teleskop dan berhasil membuktikan kebenaran teori Copernicus. Hal tersebut mengguncang kemapanan penafsiran otoritas religi hingga menyebabkan ia dipanggil untuk dihukum di Roma, dengan cara dicukil matanya.  

Pergeseran cara pandang terhadap ilmu atau kebenaran terjadi saat masa Renaissance. Upaya untuk melihat ulang teks-teks Aristoteles, kemudian penyelidikan Copernicus dan penemuan dari Galileo-Galilei memicu terhadap penyelidikan secara empiris, seperti yang dilakukan oleh Aristoteles pada masanya. Hal tersebut menggambarkan sebuah perubahan yang tadinya berpangku pada otoritas argumen atau teks pada masa sebelumnya, menjadi sebuah proses dengan menambahkan upaya empiris atas kondisi pada masa saat ini, sehingga muncul menjadi sebuah gagasan dalam filsafat yang dikenal dengan nominalisme. Gagasan ini mempertegas corak pemikiran sebelumnya yang lebih mengarah secara universal, sekaligus menentang bahwa tidak ada hal yang universal, karena segala sesuatu tersebut sifatnya partikular atau khusus, dan harus dikenali satu persatu tanpa mengasumsikan adanya otoritas universal yang mengatur segala sesuatu. Nominalisme semacam ini mendorong sikap ilmiah, yang memungkinkan untuk mengembangkan cara berfikir yang tidak mendasarkan dirinya pada berbagai otoritas pernyataan yang sifatnya universal, misalkan “semua benda pasti akan jatuh ke bumi, karena pada kodratnya setiap benda jatuh ke bumi”. Hal itu tidak lagi dianggap sebagai sesuatu yang bercorak benar sepenuhnya, tetapi bisa disanggah, sekaligus bisa dipertanyakan.

Kondisi tersebut yang menjadi pemantik atas lahirnya Revolusi Sains, Thomas Kuhn menganalisa periode tersebut dalam suatu model yang menggambarkan suatu siklus transisi dari revolusionari sains ke normal sains (Kuhn, 1962). Kemajuan sains kemudian tampak dari fenomena masyarakat yang memanfaatkan sains secara praktis, yang pada akhirnya disebut oleh Kuhn sebagai pergeseran paradigma. Pergeseran tersebut memicu lahirnya berbagai ide yang terjadi secara terus menerus baik pada orang yang sama maupun yang berbeda. Reaksi berantai ini kemudian menjadi sebuah arus kekuatan yang merubah tampilan tatanan dunia serta peradaban manusia kepada arah yang kemudian kita sebut sebagai kemajuan.

Pola pencarian sumber ilmu pengetahuan dalam revolusi sains, menitikberatkan pada akal (rasionalitas) dan pengalaman inderawi (empirisme), yang kemudian menjadi sebuah konsep yang bernama epistemologi. Selain kepada metode, revolusi sains pun menawarkan sebuah analisa terhadap realitas yang dibagi menjadi obyek, yaitu alam fisik (cosmos), manusia (antropos) dan Tuhan (Teos) yang terikat dalam konsep ontologi (Darwis, 2019).

 

Berterima Kasih pada era Renaissance, Revolusi Sains atas Revolusi Industri

Revolusi tidak dimulai oleh satu tindakan, melainkan konvergensi dari ide, gagasan, dan nilai-nilai yang ada pada saat itu yang memantik berbagai perkembangan secara terus menerus. Dalam konteks pembangunan, salah satu fase krusial yang penting untuk ditelusuri adalah revolusi industri. Kenapa demikian, karena pada masa itu terjadi perubahan terhadap corak produksi melalui penemuan mesin uap, hingga mempengaruhi sistem sosial yang berlangsung secara cepat. Seperti singkat, tapi dalam tulisan ini, saya ingin mencoba menelusuri pengaruh dari renaissance serta revolusi sains yang menjadi pemantik munculnya revolusi industri.

Renaissance serta revolusi sains menjadi titik penting keberangkatan awal kita. Karena ada proses transformasi penilaian terhadap hakikat diri manusia, yang awalnya manusia berfikir bahwa manusia adalah orang yang berziarah ke di dunia ini (Victor Mundi) menjadi manusia yang berfikir untuk menciptakan dunianya (Faber Mundi). Hal ini juga dikokohkan oleh René Descartes yang meletakkan dasar filosofis lewat penemuan subyektivitas manusia dalam tesisnya yaitu “aku berpikir, maka aku ada”(Hardiman, n.d.)  Tiga faktor yang memantik kemajuan pada era Renaissance adalah mesiu, seni cetak dan kompas. Mesiu berarti runtuhnya kekuasaan feodal dikarenakan senjata dapat dimiliki oleh kaum proletar. Seni cetak berarti pengetahuan tidak lagi ekslusif milik suatu elit saja, melainkan terbuka untuk semua orang. Kompas berarti memberikan kemungkinan penjelajahan orang-orang Eropa untuk berlayar dan memperluas horison Barat kearah dunia yang baru di Timur (Saifullah, n.d.).

Ciri-ciri yang antroposentris, muncul untuk menegaskan sikap kritisnya terhadap teosentrisme Abad Pertengahan. Sikap tersebut akhirnya memicu hubungan yang khas antara perkembangan ilmu-ilmu pengetahuan dan sikap skeptis terhadap agama. Isaac Newton, dengan fisikanya memberi kita suatu keyakinan rasional bahwa alam bekerja secara mekanis seperti sebuah arloji, dan akal budi manusia dapat menyingkap hukum-hukum yang bekerja di belakang proses-proses alamiah. Sekali lagi. Akal budi manusia, bukanlah wahyu Ilahi. Tampak jelas pemikiran Antroposentrisme yang mengutamakan otoritas diri sebagai manusia, yang otonom dari simbol-simbol religi serta menghargai kehendak, kebebasan serta nilai-nilai kodrati manusia.

Di atas Humanisme yang sangat Antroposentris pun terasa Sekular, tumbuhlah berbagai pengetahuan, teknologi, industri, birokrasi, profesi, dan konsumsi yang sampai hari ini memberikan keyakinan bahwa kehidupan ada dalam kendali manusianya. Elaborasi antar pemikiran dalam kerangka historis pada era Renaissance, revolusi sains dan humanisme, memunculkan berbagai temuan dan pemikiran yang selanjutnya menjadi efek domino bagi revolusi industri, yaitu:

a.      Roger Bacon

Menyatakan pendapat bahwa pengalaman (empiris) menjadi landasan utama bagi awal dan ujian akhir bagi semua ilmu pengetahuan, dan matematika merupakan syarat mutlak untuk mengolah semua pengetahuan.

b.      Copernicus

Dalam gagasannya menyebutkan bahwa bumi serta planet, semuanya mengelilingi matahari, sehingga matahari menjadi pusat (heliosentrisme).

c.      Johannes Kepler

Menemukan tiga buah hukum yang melengkapi penyelidikan Brahe sebelumnya, yaitu:

1)     Bahwa gerak benda angkasa itu ternyata bukan bergerak mengikuti lintasan circle, namun gerak itu mengikuti lintasan elips. Orbit semua planet berbentuk elips.

2)     Dalam waktu yang sama, garis penghubung antara planet dan matahari selalu melintasi bidang yang luasnya sama.

3)     Dalam perhitungan matematika terbukti bahwa bila jarak rata-rata dua planet A dan B dengan matahari adalah X dan Y, sedangkan waktu untuk melintasi orbit masingmasing adalah P dan Q, maka P2 : Q2 = X3 : Y3.

d.      Galileo Galilei

Beliau membuat sebuah teropong bintang yang terbesar pada masa itu dan mengamati beberapa peristiwa angkasa secara langsung. Ia menemukan beberapa peristiwa penting dalam bidang Astronomi. Ia melihat bahwa planet Venus dan Mercurius menunjukkan perubahan-perubahan seperti halnya bulan, sehingga ia menyimpulkan bahwa planet-planet tidaklah memancarkan cahaya sendiri, melainkan hanya memantulkan cahaya dari matahari.

Seperti judul di atas, bahwa kita harus berterima kasih pada era-era yang memantik perjalanan revolusi industri. Karena berkat upaya intelektual yang gigih untuk memaknai kemanusiaan dan menghidupkan serta menemukan berbagai ciptaan yang terus berkelindan, revolusi industri akhirnya dapat terpantik, dan menciptakan revolusi lain, bahkan hingga memiliki nomornya, dari mulai Revolusi 1.0, 2.0, 3.0, 4.0, 5.0, dan seterusnya.

 

Munculnya Kapitalisme

Ada beberapa posisi yang menyatakan tentang kapan Kapitalisme tersebut muncul secara penuh. Etienne Balibar, misalnya, menyatakan bahwa kapitalisme sempat mengalami keterputusan dari feodalisme saat revolusi industri pada abad ke-18. Dimana ia juga menyatakan bahwa periode 1500 – 1700 merupakan “transisi menuju kapitalisme”, sedangakan periode 1750 merupakan periode kapitalisme yang penuh. Posisi lainnya menyatakan bahwa keterputusan tersebut bukan terjadi pada masa Revolusi Industri, melainkan pada masa ekspansi Eropa dan penciptaan pasar dunia pada abad ke -16. Paul Sweezy, menyatakan bahwa bagi Marx, periode manufaktur (1500 – 1750) dan periode industri modern bukanlah dua sistem sosial yang berbeda, melainkan hanya dua fase dari sistem yang sama, yakni Kapitalisme. Namun, saya tidak akan mencoba memutuskan pada bagian yang mana kapitalisme tersebut muncul. Melainkan, sudah ada konsolidasi pasar dunia, yang kalaupun tidak bisa dikatakan sebagai tanda dari kemunculan kapitalisme, tetapi menjadi pemicu untuk mendorong kemunculan kapitalisme. Zona-zona perdagangan, telah terbentuk pada abad ke-11 sampai ke-13 di Eropa. Beberapa kota di Italia menjadi pusat perdagangan yang sangat kuat sampai abad ke-16. Lalu, sekitar 1600, posisi ini mulai beralih ke Antwerp di Belgia dan selanjutnya ke Amsterdam di Belanda (Fernand Braudel, n.d.).

Pada masa Renaissance, perdagangan berpusat di kota-kota, bukan negara. Baru kemudian, muncul “pasar nasional” di Eropa dan kebijakan negara yang berusaha melindungi pasar nasional. Diskursus ekonomi pada ranah seputar perukaran dan sirkulasi penciptaan kekayaan kemudian muncul dengan istilah merkantilisme. Namun dari pemikiran Wood dalam The Origin of Capitalism A Longer View(Wood, 2002), kekayaan tidak serta merta begitu saja menjadi kapital. Karena, kapital terikat dengan hubungan sosial yang spesifik. Oleh karena itu, berapapun jumlah modal yang berhasil dikumpulkan, tidak serta merta membentuk Kapitalisme itu sendiri. Sebab, yang diperlukan Kapitalisme adalah perubahan hubungan sosial yang menghidupkan daya gerak Kapitalisme, yaitu: persaingan, memaksimalkan profit, keharusan menginvestasikan kembali laba, dan produktivitas tenaga kerja serta pengembangan produksi yang tak henti. Perubahan hubungan sosial itu terjadi ketika individu terpisah atau -meminjam istilah dari Marx- teralienasi dari kepemilikan faktor produksi yang menyebabkan ia tergantung pada hubungan sosial baru demi bertahan hidup.

Berdasarkan narasi historis, titik mula itu adalah Inggris. Di abad 16, karakter lapisan kelas masyarakat Inggris memiliki ciri Monarki yang sentralistik. Mekanisme paksaan melalui penggunaan senjata dimonopoli oleh kerajaan. Akibatnya, kaum aristokrat tuan tanah di Inggris dilucuti dari berbagai kewenangan untuk mendapatkan upeti dari petani. Lantas, bagaimana mereka bertahan tanpa upeti, meskipun mereka menguasai tanah yang teramat luas? Ketiadaan kewenangan tersebut menyebabkan mereka menjadi tergantung pada harga pasar untuk sewa tanah.  Berbeda dengan negara-negara tetangga di mana ongkos sewa tanah nilainya relatif stabil, yang diintervensi oleh kesepakatan jangka panjang. Tuan tanah di Inggris, harus menyewa surveyor untuk memperkirakan berapa harga sewa yang seharusnya mampu diraup melalui mekanisme pasar. Hal tersebut yang menyebabkan nilai sewa tanah berubah secara fluktuatif seiring dengan ongkos dan hasil produksi serta konsumsi yang digerakan oleh pasar. Sementara itu, kesenjangan penguasaan tanah yang begitu timpang, para produsen (petani penggarap) di Inggris harus bersaing menawarkan harga sewa paling tinggi untuk mendapatkan akses tanah dan melanjutkan produksi. Agar bisa menawarkan harga sewa paling tinggi, petani-petani tersebut terus meningkatkan produktivitas dan mengurangi biaya sehemat mungkin. Laba produksi, pada akhirnya tidak bisa diandalkan untuk memenuhi tuntutan ongkos sewa yang kompetitif karena hasil penjualan bukanlah sesuatu yang dapat mereka kendalikan, melainkan oleh pasar.

Di sinilah pasar menjadi kekuatan yang memaksa, bukan sebuah pilihan sebagaimana sistem sebelumnya, dimana para penghasil atau produsen bebas menjual atau tidak menjual hasil produksinya karena mereka memiliki akses non-pasar terhadap sarana reproduksi sosial untuk bertahan hidup. Inilah pemicu Kapitalisme, bahwa pasar bukanlah menjadi mekanisme perdagangan biasa, melainkan menjadi penentu utama, bahkan masuk menjadi pengatur seluruh aspek kehidupan lainnya, termasuk keberlangsungan hidup itu sendiri.

Berlangsungnya dalil pokok Kapitalisme, dimana pasar menjadi paksaan sekaligus penggerak ekonomi yang menyediakan prakondisi untuk Revolusi Industri. Persaingan pasar yang terbentuk, dan kompetitif, menghasilkan petani yang kalah bersaing hingga berakibat pada kehilangan tanah. Tiada pilihan lain, kecuali pergi ke London sebagai buruh ‘bebas’ menawarkan tenaga kerja.

 

Barat Turut Memberi Corak Modernitas

Ide pembangunan yang ditelusuri melalui berbagai perubahan sistem sosial masyarakat, politik, ekonomi, kultural serta transformasi pemikiran yang telah dikemukakan sebelumnya, ternyata bermuara pada satu gagasan, yaitu modernitas. Jika meninjau secara historis, cikal bakal modernitas telah ada sejak Renaissance, dan mencapai puncaknya pada abad ke -19 dan 20 (setelahnya Pasca/Post Modern?). Gejalanya dapat didiagnosa dari proses industrialisasi, urbanisasi, resionalisasi, birokratisasi, demokratisasi, kapitalisme, individualistis, serta tak ketinggalan, akal dan sains (Sztompka, 1993).

Gagasan modernitas sendiri dipengaruhi oleh falsafah yang berkembang di Eropa, dan menjadi salah satu konsep yang berpengaruh dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara. Secara garis besar dapat digeneralisasikan atas dasar kemajuan manusia terhadap konstruksi tradisional (Shafiqur Rahaman, 2022). Oleh karena itu, modernitas dapat dilihat juga secara politis, karena ia melekat dengan hegemoni pembangunan serta kemajuan yang “kebarat-baratan”. Namun, sebelum menuju “Ke Barat” untuk mengidentifikasi ciri-ciri modernitasnya. Saya tertarik untuk menyertakan pandangan dari Habermas dalam diskursus modernitas yang ia bahas, bahwa modernitas merupakan “proyek yang belum selesai”. Habermas berpandangan, dalam modernitas masih banyak hal yang perlu diselesaikan oleh dunia modern itu sendiri, sebelum manusia atau masyarakat luas menyatakan diri telah masuk kedalam fase dunia posmodern. Singkatnya, modernitas bukannya berkembang kearah yang lebih maju, justru modernitas pada akhirnya cenderung berlawanan dengan dirinya sendiri (Jurgen Habermas, 1990).

Hal ini juga menjadi pemikiran dari Berman, yang coba saya cuplik pada tulisan ini.  

“Modernity promises us adventure, power, joy, growth, transformation of ourselves and the world – and at the same time- that threatens to destroy everything we have, everything we know, everything we are (Berman, 1983)”

Diskursus modernitas masih pada pergumulan dikotomis perihal masyarakat maju dan belum -atau bahkan tidak- maju. Namun, terlepas dari berbagai kondisi atas modernitas yang muncul dalam kehidupan kita. Tak kalah pentingnya kita juga bisa mengidentifikasi berbagai tipe modernitas ala Barat yang secara hegemonik tak lagi dibatasi oleh batas-batas regional. Secara politis, gagasan dari kebebasan, kesetaraan, demokrasi, nasionalisme, berkembang secara cepat pada masyarakat barat. Konsekuensinya adalah, sistem monarki menjadi luntur, dan konsepsi demokratis menjadi populer. Secara ekonomi, itu terjadi setelah revolusi industri dimana komponen politik modern melekat dengan pertumbuhan pesat pembangunan ekonomi yang berdampak terhadap urbanisasi massal. Produk-produk hasil dari kebaruan industri saat itu ditambah permintaan yang luas untuk bahan baku, menuntun kita pada kolonialisme, dan itu memberi ruang bagi barat dalam memperluas konsepsi atas modernitas (Shafiqur Rahaman, 2022).

Kolonialisme sendiri merupakan sebuah proses untuk mengeksploitasi sistem ekonomi, politik, hingga budaya pada negara terjajah, yang pada abad ke-16 dilakukan oleh Eropa Barat kepada negara non-Barat diikuti dengan penjelajahan rute laut di Selatan Afrika dan Amerika. Hal tersebut dilegitimasi oleh negara-negara Eropa Barat (Prancis, Portugal, Belanda, Inggris dan Jerman) sebagai misi pembudayaan pada abad ke -15 hingga 20 dengan menjajah sebagian besar wilayah Afrika, Asia, serta Filipina.

Dalam memetakan modernitas gaya barat, saya ingin menggunakan pendekatan yang dilakukan oleh Marshall Berman dengan membagi modernitas kedalam tiga fase:

a.      Fase Pertama

Abad ke-15  hingga 1789, sebagai awal mula modernitas, dimana manusia mulai memiliki keingintahuan untuk mengeksplorasi kemajuan dalam kehidupan.  

b.      Fase Kedua

1789 – 1900, pengembangan kehidupan yang modern melalui penemuan teknologi seperti mesin uap, transportasi kereta api, kawasan industri dan perkembangan media cetak.

c.      Fase Ketiga

1901 hingga abad ke-20, kemajuan tidak terbatas pada teknologi saja, namun juga perkembangan secara institusional, termasuk pengidentifikasian negara-negara yang tertinggal untuk diintervensi menjadi modern, melalui standar-standar kemajuan atau modernitas yang telah disepakati oleh negara-negara maju.

Marx turut mendefinisikan masyarakat modern melalui sudut pandang ekonomi. Ia meyakini bahwa pembangunan yang kapitalistik akan membuat masyarakat menjadi maju dan modern, bahkan disebut sebagai kemajuan yang nyata. Tetapi ia juga mengkritik sistem borjuis, dimana buruh dieksploitasi. Karena menurutnya, modal bukanlah kepemilikan pribadi, tetapi kekuatan sosial yang tidak bisa diubah menjadi kepemilikan pribadi. Di sisi yang lain, Marx juga menekankan pada pembentukan pemerintahan komunis untuk menghilangkan kepemilikan pribadi, eksploitasi dan ketidaksetaraan sosial (Heiskala, 1986).

Penutup

Refleksi pada pendobrakan atas otoritas doktrin agama menuju awal pembaharuan pada masa Renaissance telah mendorong manusia sehingga tersentralistis sebagai pihak yang terus menerus melakukan eksplorasi, mencari definisi atas kemajuan itu sendiri pada masanya masing-masing. Pergolakan pemikiran yang terjadi berabad-abad lamanya, membentuk proses revolusi pada sains yang menjadi saksi atas berubahnya peradaban manusia pada berbagai ruang. Tak ketinggalan, skala, model, dan operasionalisasi industri turut berevolusi hingga berpengaruh tidak lagi pada proses ekonomi saja, namun sosio-kultural dan politik. Hukum alam perihal siapa yang paling kuat, ia yang dapat bertahan, menuntun manusia untuk menjelajah sekaligus menjajah berbagai wilayah di muka bumi ini. Hegemonisasi atas berbagai wacana serta gagasan atas kemajuan tak terelakkan lagi. Hingga hari ini, kita bisa menikmati berbagai kemajuan, kemudahan, kecepatan, kecanduan akan berbagai perubahan yang singkat, ditambah, satu paket dengan kemunduran, kesulitan, perlambatan, pada beberapa aspek atau kelompok masyarakat lainnya.

Ini menuntun saya pada penutup dari perjalanan menelusuri embrio pembangunan yang telah coba saya lakukan. Tentunya ini bukanlah sebuah akhir dari perjalanan, karena pembangunan tidak pernah tidur, ia bergumul dengan proses eksplorasi manusia untuk terus maju dalam mendefinisikan kemajuan yang entah sampai kapan berhenti, seiring dengan bentuk-bentuk modernitas yang juga bertransformasi menjadi pasca modernitas dengan segala persoalan yang penting untuk dikaji. Segala hal yang terlahir dalam narasi pembangunan, kemajuan, hingga bentuk-bentuk modernitas, terkoneksi dengan berbagai aspek dalam kehidupan kita saat ini.

 

Bahan Bacaan

Citizens to Lords A Social History of Western Political Thought from Antiquity to the Late Middle Ages (Ellen Meiksins Wood) (z-lib.org). (n.d.).

Fernand Braudel. (n.d.). THE STRUCTURES OF EVER YDA Y LIFE.

Filsafat Ilmu Pengetahuan Perspektif Barat dan Islam (Prof. Darwis A. Soelaiman, Ph.D.) (z-lib.org). (n.d.).

Hardiman, A. F. B. (n.d.). Humanisme dan Sesudahnya. 

Heiskala, R. (1986). Marx, the Modern World, and the Problem of Social Regulation.

Jurgen Habermas. (1990). The Philosophical Discourse of Modernity (Jurgen Habermas, Thomas McCarthy etc.) (z-lib.org).

Kuhn, T. S. (1962). The Structure of Scientific REVOLUTIONS FOURTH EDITION With an Introductory Essay by Ian Hacking.

Saifullah. (n.d.). Renaissance dan Humanisme Sebagai Jembatan Lahirnya Filsafat Modern.

Shafiqur Rahaman, Md. (2022). Western Modernity: The Origin, Development and the Limitation. Advances in Sciences and Humanities, 8(1), 5. https://doi.org/10.11648/j.ash.20220801.12

Willis, & Katie. (n.d.). Theories and Practices of Development.

Wood, E. Meiksins. (2002). The origin of capitalism : a longer view. Verso.

Comments

Popular posts from this blog

Menyimak Perempuan yang Selamat Dari Dalam Rumah

Jalan Berliku Di Bawah Langit Yang Biru

Di Antara Hal-Hal yang Terus Berubah